Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Di Negeri Ekacakra, fajar tak lagi disambut dengan sukacita. Matahari memang tetap terbit dari ufuk timur, tetapi kehangatannya seakan enggan menyentuh tanah yang dipenuhi kesedihan.
Di jantung kerajaan berdiri sebuah istana besar yang terbuat dari batu-batu hitam.
Bangunan itu menjulang megah, tetapi kemegahannya tidak menghadirkan rasa aman. Justru dari sanalah sumber ketakutan berasal.
Penguasa negeri itu adalah Prabu Baka.
Namanya dikenal bukan karena kebijaksanaan atau kasih sayang kepada rakyat, melainkan karena kekuasaan yang dijalankan melalui rasa takut.
Dalam kisah pewayangan, Prabu Baka dikenal sebagai raksasa pemakan manusia.
Namun di balik kisah tersebut tersimpan makna yang lebih dalam. Ia melambangkan penguasa yang mengorbankan kesejahteraan rakyat demi kepentingan dirinya sendiri.
Setiap pagi, dentuman genderang pasukan kerajaan terdengar di berbagai penjuru desa. Bagi rakyat, suara itu bukan pertanda keamanan, melainkan awal penderitaan baru.
“Serahkan hasil panen!”
“Serahkan ternak kalian!”
“Semua yang dimiliki rakyat adalah milik kerajaan!”
Perintah itu disampaikan tanpa ruang untuk bertanya, apalagi menolak. Mereka yang mencoba membantah akan dianggap melawan titah raja.
Di dalam istana, Prabu Baka duduk di atas singgasana tinggi yang menghadap seluruh ruang pertemuan. Wajahnya menunjukkan kewibawaan sekaligus ancaman.
Di hadapannya berdiri para patih dan pejabat kerajaan. Tak seorang pun berani mengangkat kepala terlalu lama.
Salah seorang patih memberanikan diri melapor.
“Baginda, rakyat di desa sebelah timur sudah tidak memiliki persediaan pangan. Lumbung mereka kosong karena musim yang buruk dan pungutan yang terus bertambah.”
Ruangan mendadak sunyi.
Prabu Baka menatap patih itu dengan sorot mata dingin.
“Tidak memiliki persediaan?” tanyanya pelan.
Patih tersebut menelan ludah dan mengangguk.
Sesaat kemudian, Prabu Baka justru tersenyum tipis.
“Kalau begitu, mereka belum bekerja cukup keras.”
Jawaban itu membuat para pejabat saling berpandangan, tetapi tak ada yang berani menyela.
Prabu Baka berdiri dari singgasananya. Langkahnya bergema memenuhi ruangan.
“Dengarkan baik-baik!” serunya.
“Kerajaan yang besar tidak dibangun oleh belas kasihan. Kerajaan yang besar dibangun oleh pengorbanan!”
Ia menyapu seluruh ruangan dengan tatapan tajam.
“Jika rakyat masih mampu bernapas, berarti mereka masih mampu memberi lebih banyak kepada kerajaan.”
Tak seorang pun menjawab.
Bukan karena setuju, melainkan karena ketakutan telah menjadi hukum yang paling kuat di Ekacakra.
Dan di saat para pejabat memilih diam, penderitaan rakyat perlahan berubah menjadi bara yang suatu hari akan mencari jalannya sendiri.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani