Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Seorang patih mencoba berbicara. “Tapi, Baginda… mereka sudah kelaparan.”
Prabu Baka menoleh tajam.
“Kalau mereka lapar… itu urusan mereka.”
Hening. Bahkan udara di ruangan itu terasa takut.
Di luar istana, Desa Wanalaya menjadi saksi penderitaan yang tidak pernah berhenti.
Seorang petani tua bernama Wisangkara berdiri di tengah ladangnya yang kering.
Tanah itu retak seperti kulit tua yang kehabisan air. “Ini dulu tanah kehidupan…” katanya lirih.
Anaknya mendekat. “Ayah… kenapa kita tidak boleh menyimpan hasil panen kita sendiri?”
Wisangkara terdiam lama.
Lalu menjawab dengan suara berat.
“Karena yang kita tanam… bukan lagi milik kita…”
Setiap bulan, prajurit kerajaan datang.
Tanpa senyum. Tanpa belas kasihan. “Semua hasil panen diserahkan ke istana!”
Seorang ibu memeluk anaknya. “Ini untuk makan anakku…”
Prajurit menjawab dingin. “Perintah Prabu Baka.”
Ibu itu menangis.
Namun hasil panennya tetap diambil.
Seorang pemuda mencoba melawan.
“Apa kalian tidak punya hati?!”
Seketika ia dipukul hingga jatuh.
“Di Ekacakra, yang punya hati adalah yang berkuasa,” jawab prajurit. Rakyat mulai memahami satu hal. Di negeri ini, kelaparan bukan takdir melainkan kebijakan.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani