Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Bima menjawab dengan tenang.
“Aku adalah orang yang tidak mau melihat manusia dimakan oleh kekuasaan.”
Prabu Baka tertawa keras.
“Kekuasaan adalah hukum!”
Bima menatapnya tajam.
“Jika hukum memakan rakyat, maka hukum itu harus dihentikan.”
Angin seolah berhenti berembus.
Burung-burung terdiam.
Bumi seperti menahan napas.
Prabu Baka kembali berkata,
“Aku kuat karena aku mengambil dari rakyat!”
Bima menjawab,
“Kau justru lemah karena tidak pernah memberi kembali.”
Prabu Baka mulai murka.
“Rakyat ada untukku!”
Bima melangkah maju.
“Seorang raja ada untuk rakyat.”
Kalimat itu bagaikan palu yang menghantam tembok kekuasaan yang selama ini berdiri kokoh.
Prabu Baka mulai goyah.
“Tidak... aku hanya menjalankan kekuasaan.”
Bima menjawab tegas,
“Tidak. Kau menjalankan keserakahan.”
Suasana kembali hening.
Prabu Baka menundukkan pandangannya. Untuk pertama kalinya, ia melihat rakyat bukan sebagai angka atau sumber kekayaan, melainkan sebagai manusia.
Tangannya bergetar.
“Aku... tidak tahu.”
Bima menjawab pelan,
“Ketidaktahuanmu telah memakan banyak kehidupan.”
Angin kembali bertiup kencang.
Prabu Baka jatuh berlutut.
Bukan karena kalah dalam peperangan, melainkan karena kesadarannya runtuh di hadapan kebenaran.
“Aku... salah,” ucapnya lirih.
Dan dalam sekejap, simbol kekuasaan yang selama ini memangsa rakyat perlahan sirna dari Ekacakra.
Bukan hanya sosok Prabu Baka yang tumbang.
Namun juga sistem ketakutan yang selama ini ia bangun dan pelihara.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani