Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Cerpen Wayang Prabu Baka dan Darah Ekacakra Bagian 5: Kemenangan Keadilan atas Kekuasaan yang Zalim

Ki Damar • Sabtu, 6 Juni 2026 | 12:29 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Prabu Baka. (AI GENERATED/RADAR MADIUN)
Ilustrasi tokoh wayang Prabu Baka. (AI GENERATED/RADAR MADIUN)

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

Hari-hari setelah itu berubah.

Sawah kembali menghijau. Air mengalir jernih di sungai-sungai. Anak-anak kembali bermain dan tertawa tanpa rasa takut.

Wisangkara menitikkan air mata haru.

“Jadi... kami boleh hidup tanpa ketakutan lagi?”

Bima menjawab dengan tenang.

“Kalian bukan hanya boleh hidup, tetapi juga berhak hidup dengan layak.”

Setelah itu, Bima pergi tanpa membawa apa pun. Baginya, kebenaran tidak membutuhkan hadiah ataupun penghormatan.

Narasi wayang kemudian menutup kisah tersebut.

Prabu Baka bukan sekadar seorang raja. Ia adalah simbol kekuasaan yang kehilangan nurani dan menjadikan rakyat sebagai korban keserakahannya.

Sementara itu, Bima menjadi simbol keberanian yang menghidupkan kembali keadilan.

Tidak ada lagi kekuasaan yang memangsa rakyatnya.

Di singgasana Ekacakra, angin bertiup kencang seolah membawa pergi seluruh sisa ketakutan yang selama ini membelenggu negeri itu. Langit yang semula muram perlahan diterangi cahaya fajar, sementara bumi seakan menarik napas panjang setelah sekian lama menanggung penderitaan.

Rakyat berkumpul di halaman desa. Sebagian menangis haru, sebagian berlutut penuh syukur. Mereka seolah tidak percaya bahwa rantai penindasan yang selama ini mengikat kehidupan mereka akhirnya benar-benar terputus.

Tak ada lagi suara langkah prajurit yang merampas hasil jerih payah rakyat.

Tak ada lagi perintah yang memeras dan menakutkan.

Yang tersisa hanyalah keheningan yang perlahan berubah menjadi harapan.

Di tengah suasana itu, Bima berpesan kepada rakyat,

“Jangan biarkan ketakutan kembali menjadi raja di hati kalian. Sebab ketika rakyat memilih diam, kezaliman akan selalu menemukan jalan untuk hidup kembali.”

Sejak saat itu, Ekacakra tidak hanya dikenal sebagai negeri yang terbebas dari Prabu Baka.

Ekacakra juga menjadi pengingat bahwa kekuasaan tanpa keadilan pada akhirnya akan runtuh. Dan keberanian rakyat untuk bersuara adalah cahaya yang tidak boleh padam, bahkan di tengah kegelapan yang paling pekat sekalipun.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#prabu baka #cerpen #wayang