Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Kisah Dursasana: Simbol Kesombongan Kurawa yang Berakhir Tragis di Tangan Bima

Ki Damar • Senin, 8 Juni 2026 | 15:32 WIB
Ilustrasi wayang Dursasana.
Ilustrasi wayang Dursasana.

Jawa Pos Radar Madiun - Dalam epos besar pewayangan Mahabharata, sosok Dursasana dikenal luas sebagai salah satu tokoh antagonis utama dari pihak Kurawa.

Karakter ini sangat identik dengan sifat kasarnya, tingkat kesombongannya yang tinggi, serta kebiasaan buruknya yang gemar meremehkan orang lain.

Dursasana digambarkan sebagai sosok pemarah yang sangat mudah terpancing emosi dalam menghadapi berbagai situasi.

Ia juga dikenal tidak pernah segan untuk berkata kasar maupun bertindak semena-mena terhadap lawan atau orang yang dianggapnya lebih lemah.

Kesombongan Dursasana berakar dari keyakinan butanya bahwa ia sangat kuat karena berlindung di balik kekuasaan Kurawa di Kerajaan Hastinapura.

Perasaan superior tersebut membuatnya selalu menyepelekan kemampuan para Pandawa yang sejatinya memiliki kehebatan jauh di atas dirinya.

Ia sama sekali tidak menghargai kehormatan Pandawa meskipun mereka masih memiliki ikatan tali persaudaraan sebagai satu keluarga kerajaan.

Dalam berbagai literatur kisah pewayangan, Dursasana sangat sering terlibat langsung dalam serangkaian tindakan kotor yang tidak terpuji.

Salah satu dosa terbesarnya adalah saat ia secara brutal menghina dan merendahkan martabat Dropadi pascaperistiwa permainan dadu yang tragis.

Baca Juga: Mengupas Karakter Duryudana, Tokoh Wayang Diktator di Hastinapura dalam Kisah Epik Mahabharata

Tindakan tercela tersebut menjadi bukti kuat betapa ia sama sekali tidak memiliki rasa hormat terhadap sesama manusia.

Ia secara terang-terangan lebih mengutamakan ego pribadi serta keangkuhan kekuasaan kelompoknya dibandingkan memegang teguh nilai moral.

Namun, sejarah pewayangan mencatat bahwa sifat sombong dan kebiasaan meremehkan orang lain itu pada akhirnya membawa bumerang bagi dirinya sendiri.

Segala karma buruk tersebut harus dibayarnya dengan sangat mahal saat meletusnya perang besar Bharatayuda di padang Kurusetra.

Dursasana harus menghadapi akibat fatal dari perbuatannya dan tewas secara mengenaskan dalam pertempuran sengit melawan Bima.

Kematian tokoh antagonis ini memberikan pelajaran berharga bahwa keangkuhan dan kebiasaan menyepelekan orang lain hanya akan membawa pada kehancuran.

Sikap rendah hati dan saling menghargai terbukti jauh lebih bernilai daripada sekadar merasa diri paling kuat atau lebih unggul dari pihak lain.

Secara filosofis, Dursasana juga dapat dipahami sebagai representasi dari individu yang terjebak di dalam lingkaran lingkungan yang beracun.

Ia hidup dan tumbuh dalam sebuah sistem pemerintahan yang secara terang-terangan membenarkan tindak kesombongan dan kekerasan.

Karena selalu berada di pihak penguasa, ia tidak pernah belajar untuk sekadar mengendalikan diri atau mempertimbangkan perasaan orang-orang di sekitarnya.

Kondisi tersebut membuatnya semakin buta dan melenceng jauh dari nilai-nilai luhur kebenaran serta kebijaksanaan hidup.

Kisah tragisnya menjadi pengingat abadi bahwa kekuatan yang tidak dilandasi oleh moral hanya akan membuat seseorang tersesat dan berujung pada kebinasaan. (*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#wayang jawa #dursasana #wayang