Jawa Pos Radar Madiun - Dalam epik pewayangan Mahabharata, Kartamarma dikenal luas sebagai salah satu tokoh Kurawa yang memiliki kedudukan sangat strategis di Kerajaan Hastinapura.
Posisinya di struktur pemerintahan terbilang sangat tinggi karena ia berada tepat di bawah komando sang ahli strategi, Patih Sengkuni.
Sebagai saudara Prabu Duryudana, Kartamarma dari luar memang selalu terlihat menampilkan gestur yang sangat setia kepada rajanya.
Namun, loyalitas tersebut sangat sering dipertanyakan karena kesetiaannya lebih kental dengan aroma penjilat kekuasaan ketimbang sikap pengabdian yang murni.
Dalam berbagai literatur pewayangan, Kartamarma secara konsisten digambarkan sebagai sosok pejabat yang selalu berusaha menyenangkan hati pimpinannya.
Ia kerap kali menyajikan laporan dengan prinsip "asal bapak senang" yang terdengar sangat manis dan menguntungkan bagi pihak Kurawa.
Padahal, laporan palsu yang disampaikannya tersebut sering kali sangat jauh dari realitas kondisi yang sebenarnya terjadi di lapangan.
Hal memalukan ini membuatnya dicap sebagai tokoh lingkar dalam istana yang tidak pernah jujur dalam mendistribusikan informasi krusial.
Motif utama di balik seluruh kebohongan Kartamarma semata-mata adalah kecenderungannya yang sangat pragmatis untuk mempertahankan kedudukan bergengsi.
Baca Juga: Mengupas Karakter Duryudana, Tokoh Wayang Diktator di Hastinapura dalam Kisah Epik Mahabharata
Segala tindakan, tutur kata, dan manuver politiknya selalu diarahkan sedemikian rupa agar posisinya di lingkaran inti Duryudana tetap aman sentosa.
Ia bahkan tidak ragu untuk melacurkan pendapat dan nuraninya sendiri hanya demi mengamankan jabatan empuknya di dalam struktur kekuasaan.
Meskipun posisinya sangat tinggi, kecerdasan dan kelicikan Kartamarma sejatinya masih jauh berada di bawah bayang-bayang kehebatan Sengkuni.
Namun, peran sentralnya sebagai corong penyampai informasi yang telah dimanipulasi terbukti sangat krusial dalam percaturan politik istana.
Laporan-laporan bias darinya terbukti sering kali memperkuat keyakinan buta Duryudana untuk mengambil keputusan yang sebenarnya sangat merugikan negara.
Dalam banyak situasi genting yang mengancam keutuhan bangsa, Kartamarma sama sekali tidak pernah menunjukkan nyali untuk berbeda pendapat secara terbuka.
Ia lebih memilih hanyut mengikuti arus kekuasaan dan membebek pada apa pun titah raja, meskipun perintah tersebut jelas-jelas menyalahi prinsip keadilan.
Secara filosofis, Kartamarma menjelma menjadi simbol abadi dari seorang figur yang lebih memuja jabatan fana dibandingkan menjunjung tinggi nilai kebenaran.
Karakternya menjadi bukti nyata bagaimana seseorang bisa kehilangan objektivitas dan akal sehat saat sudah terlampau nyaman duduk di kursi kekuasaan.
Kisah hidup Kartamarma memberikan pelajaran berharga bahwa dalam dinamika politik, tidak semua orang yang tampak menunduk setia memiliki niat pengabdian yang tulus.
Sering kali, klaim kesetiaan buta tersebut hanyalah topeng murahan yang digunakan sebagai alat pertahanan diri demi mengamankan kepentingan perut pribadi. (*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani