Oleh: Ki Damar*
Matahari pagi menyinari menara-menara tinggi di Negara Atas Angin, sebuah negeri yang terkenal karena para kesatrianya yang sakti dan para panditanya yang bijaksana.
Di salah satu pendapa kerajaan, berdiri seorang kesatria muda bernama Kumbayana. Ia sedang memandang jauh ke arah cakrawala ketika seorang utusan datang membawa kabar.
"Kakang Kumbayana!" seru sang utusan sambil memberi hormat.
"Apa gerangan yang membuatmu terburu-buru?" tanya Kumbayana.
Utusan itu tersenyum, "Aku membawa kabar bahagia. Saudara seperguruan Kakang, yaitu Raden Sucitra, telah dinobatkan menjadi raja."
Mata Kumbayana berbinar, "Benarkah?"
"Benar, Kakang. Seluruh negeri tengah merayakan penobatannya."
Kumbayana tersenyum lebar. "Sucitra akhirnya mencapai takdirnya." Ia terdiam beberapa saat, lalu berkata, "Aku harus menemuinya. Aku ingin mengucapkan selamat secara langsung."
Baca Juga: Mengupas Karakter Duryudana, Tokoh Wayang Diktator di Hastinapura dalam Kisah Epik Mahabharata
Maka berangkatlah Kumbayana meninggalkan Negara Atas Angin. Ia menempuh perjalanan panjang melewati hutan, lembah, dan pegunungan. Berhari-hari ia berjalan.
Di sepanjang perjalanan, ia mengenang masa-masa saat belajar bersama Raden Sucitra.
"Masih kuingat saat kita berlatih memanah hingga tengah malam," gumamnya sambil tersenyum. "Dan sekarang engkau telah menjadi raja."
Namun, setelah berminggu-minggu menempuh perjalanan, langkah Kumbayana terhenti.
Di hadapannya terbentang lautan luas tanpa batas. Ombak menggulung tinggi dan angin laut berembus keras. Kumbayana memandang jauh ke seberang.
"Itukah negeri tempat Sucitra memerintah?"
Tak ada jawaban selain suara ombak. Selama tiga hari ia bertahan di pantai. Ia mencari perahu, tetapi tidak ada. Ia menunggu nelayan, tetapi tidak seorang pun datang. (*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani