Oleh: Ki Damar*
Ombak yang tadinya ganas perlahan mereda. Laut yang bergelora menjadi tenang.
Kuda itu mulai berlari. Namun bukan di daratan, ia berlari di atas permukaan laut. Kumbayana terkejut.
"Dewa-dewa! Apa yang sedang terjadi?"
Angin berembus kencang di wajahnya. Air laut terbelah di kanan dan kiri. Kuda putih itu melaju seperti kilat. Belum pernah Kumbayana menyaksikan keajaiban semacam itu.
Di tengah lautan, Kumbayana berkata, "Siapa sebenarnya engkau?"
Tentu saja tidak ada jawaban secara langsung. Namun, anehnya ia mendengar bisikan suara perempuan yang sangat lembut.
"Aku hanyalah penolong perjalananmu."
Kumbayana menoleh ke kanan dan ke kiri, "Siapa itu?"
Tak ada siapa-siapa, hanya hamparan laut luas. Bulu kuduknya mulai merinding.
Menjelang fajar, mereka akhirnya tiba di seberang lautan. Kuda putih itu berhenti di sebuah padang rumput yang luas. Kumbayana turun perlahan, lalu mengusap leher kuda itu.
"Terima kasih."
Tiba-tiba wajah Kumbayana berubah pucat. Ia teringat akan sumpahnya sendiri.
"Jika laki-laki kujadikan saudara..." Ia menelan ludah. "Jika perempuan kujadikan istri..."
Kumbayana terduduk lemas. "Aku telah bersumpah di hadapan langit," ia memegang kepalanya, "bagaimana mungkin aku menikahi seekor kuda?"
Seketika angin bertiup kencang. Cahaya keemasan turun dari langit. Tubuh kuda putih itu mulai memancarkan sinar yang menyilaukan. Kumbayana mundur beberapa langkah dengan panik.
"Apa yang terjadi?"
Cahaya itu semakin terang. Perlahan-lahan, bentuk tubuh kuda itu berubah. Kaki-kakinya bertransformasi menjadi kaki manusia, dan surainya berubah menjadi rambut hitam yang panjang terurai.
Wujud seekor kuda seketika lenyap. (*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani