Jawa Pos Radar Madiun - Dalam semesta pewayangan Mahabharata versi Jawa, sosok Antareja dikenal luas sebagai putra Bima (Werkudara) yang memiliki kesaktian luar biasa.
Kekuatan utama kesatria ini bersumber dari elemen bumi dan aliran darah naga yang mengalir deras di dalam tubuhnya.
Namun di balik pembawaannya yang tenang, pahlawan sakti ini rupanya menyimpan pergulatan batin mendalam yang sangat jarang dibahas ke publik.
Antareja sejatinya terjebak di antara rasa iri, simpati, dan kekecewaan memilukan terhadap perlakuan tidak adil dalam lingkup keluarga Pandawa.
Dalam berbagai literasi kisah, Antareja sering digambarkan sebagai sosok kesatria pendiam yang memiliki perasaan sangat peka terhadap keluarganya.
Perasaan kompleks tersebut secara khusus sering kali tertuju kepada saudara tirinya yang sangat melegenda, yakni Gatotkaca.
Di satu sisi, ia sangat mengagumi Gatotkaca yang dikenal gagah, sangat populer, dan selalu mendapat panggung utama dalam setiap pertempuran besar.
Namun di sisi lain, Antareja secara diam-diam memendam rasa iri karena merasa dirinya tidak pernah mendapatkan pengakuan yang setara.
Baca Juga: Hasil Badminton Australia Open 2026: Bekuk Wakil Taiwan, Alwi Farhan ke Semifinal
Rasa Iri Berbalut Cinta Persaudaraan
Meski memendam kecemburuan, rasa iri tersebut sama sekali tidak menjadikan Antareja sebagai sosok pendendam yang membenci saudaranya.
Justru di balik itu semua, ia tetap memiliki rasa sayang dan cinta persaudaraan yang sangat tulus kepada Gatotkaca.
Ia selalu menaruh hormat yang tinggi kepada saudaranya tersebut sebagai bagian tak terpisahkan dari keluarga besar Pandawa.
Hanya saja, relung hatinya kerap merintih dan bertanya mengapa porsi perhatian serta kepercayaan selalu lebih banyak dilimpahkan kepada Gatotkaca.
Hal yang paling menyiksa batin Antareja ternyata bukan sekadar ajang perbandingan yang tidak berkesudahan dengan sosok Gatotkaca.
Luka terdalamnya justru bersumber dari rasa ketidakadilan nyata yang ia rasakan langsung di dalam tubuh internal keluarga Pandawa sendiri.
Ia merasa bahwa berbagai keputusan strategis keluarga Pandawa acap kali lebih memihak pada tokoh-tokoh tertentu saja.
Sementara itu, tokoh lain yang berjuang sama kerasnya dan memiliki tingkat kesetiaan serupa justru sering kali kurang diperhatikan keberadaannya.
Pada akhirnya, sosok Antareja menjelma menjadi simbol paling nyata dari seorang kesatria hebat yang hidup dengan penuh konflik batin.
Kisahnya menjadi pengingat bahwa di dalam keluarga sebesar Pandawa sekalipun, perasaan manusiawi seperti iri, cinta, dan kecewa adalah hal yang mustahil untuk dihindari. (*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani