Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Kumbayana dan Luka di Tanah Pancala Bagian 1: Jalan Panjang yang Ditakdirkan

Ki Damar • Minggu, 14 Juni 2026 | 15:23 WIB
Ilustrasi cerpen wayang Kumbayana dan Luka di Tanah Pancala. (AI GENERATED/RADAR MADIUN)
Ilustrasi cerpen wayang Kumbayana dan Luka di Tanah Pancala. (AI GENERATED/RADAR MADIUN)
Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

Langit Negeri Pancala pagi itu tidak sekadar cerah. Ia seolah menjadi saksi lahirnya sebuah takdir besar yang kelak mengubah sejarah.

Genderang kehormatan ditabuh bertalu-talu, menggema hingga ke perbatasan negeri. Para raja dari berbagai penjuru telah datang dan memenuhi pendapa agung istana untuk menyaksikan penobatan Raden Sucitra yang kini bergelar Prabu Drupada.

Namun, jauh sebelum kemegahan itu, di luar batas negeri, seorang lelaki berdiri seorang diri di atas sebuah bukit kecil.

Dialah Kumbayana.

Dari ketinggian itu, Pancala tampak seperti negeri yang lahir dari kesempurnaan.

Sawah hijau membentang tanpa ujung, laksana permadani kehidupan yang ditenun para dewa. Sungai-sungai jernih mengalir tenang, memantulkan cahaya matahari bak cermin langit. Di kejauhan, Istana Pancala berdiri megah dengan pilar-pilar tinggi dan bendera kerajaan yang berkibar gagah.

Kumbayana terdiam lama.

Angin menyapu wajahnya yang lelah.

"Jadi... inilah Pancala," gumamnya lirih.

Baca Juga: Server CCTV Dishub Kota Madiun Terbakar, Pantauan Lalu Lintas Lumpuh

Matanya sedikit basah, bukan karena sedih, melainkan karena haru.

"Sucitra... engkau benar-benar telah mencapai puncak takdirmu."

Ia tersenyum kecil, lalu melangkah menuruni bukit. Namun, setiap langkahnya membawa beban yang tak terlihat. Rasa rindu, harapan, dan sesuatu yang kelak berubah menjadi luka.

Sesampainya di gerbang istana, dua prajurit segera menghadangnya.

"Berhenti!"

Tombak yang disilangkan itu mengarah ke dada Kumbayana.

"Siapa kau, Brahmana lusuh? Istana ini bukan tempat pengemis!"

Kumbayana tidak tersinggung. Ia hanya menundukkan kepala sedikit.

"Aku datang untuk bertemu Prabu Drupada."

Kedua prajurit itu tertawa.

"Prabu tidak menerima orang sembarangan!"

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#kumbayana #pancala #cerpen #drupada #wayang