Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
“Aku bukan orang sembarangan,” jawab Kumbayana tenang. “Aku Kumbayana, saudara seperguruan beliau.”
Mendengar itu, suasana berubah. Salah satu prajurit tampak ragu.
“Saudara seperguruan raja?”
Prajurit yang lain tetap curiga.
“Jangan tertipu! Banyak orang mengaku-ngaku!”
Kumbayana menghela napas.
“Jika kalian ragu, sampaikan saja kepada beliau. Aku akan menunggu.”
Seorang prajurit masuk untuk melapor. Waktu terasa berjalan lambat. Ketegangan menggantung di udara.
Tak lama kemudian, ia kembali dengan raut wajah yang berubah.
Baca Juga: Investasi Kota Madiun Tembus Rp 212 Miliar, Dumilah Park Dilirik Investor Surabaya
“Buka gerbang.”
“Apa?!”
“Ini perintah langsung dari istana.”
Gerbang besar itu pun perlahan terbuka.
Kumbayana melangkah masuk.
Namun, tatapan para prajurit tidak berubah. Tatapan itu dipenuhi rasa heran, curiga, dan tidak percaya.
“Bagaimana mungkin orang seperti itu menjadi saudara seorang raja...”
Di dalam istana, kemegahan langsung menyambutnya. Para raja duduk berjajar. Emas berkilau di setiap sudut ruangan. Harum bunga dan dupa memenuhi udara.
Namun, di tengah semua kemegahan itu, Kumbayana tampak seperti sosok asing.
Bisik-bisik mulai terdengar.
“Itukah saudara raja?”
“Brahmana dari hutan...”
“Aneh sekali...”
Kumbayana tetap berjalan.
Matanya hanya tertuju pada satu sosok, Drupada.
Ia tersenyum hangat.
“Saudaraku... aku datang dari jauh untuk mengucapkan selamat.”
Drupada menatapnya sekilas.
Lalu terdiam.
Seolah tidak mengenalnya.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani