Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Kumbayana melangkah maju.
“Apakah kau tidak mengenaliku, Sucitra?”
Drupada menjawab dingin.
“Aku tidak mengenalmu.”
Kumbayana terdiam sesaat.
“Drupada, apakah takhta membuatmu buta?”
Drupada berdiri.
“Jangan bawa masa lalu ke hadapan raja!”
“Raja?”
Kumbayana menatapnya tajam.
“Apakah takhta membuatmu lebih tinggi daripada manusia yang dulu duduk bersamamu di tanah yang sama?”
Drupada menjawab dengan suara keras.
“Takhta adalah kehormatan! Dunia ini berdiri karena kekuasaan!”
Kumbayana melangkah satu langkah ke depan.
“Kalau begitu, kau telah melupakan satu hal. Manusia tanpa ingatan adalah manusia tanpa jiwa.”
Drupada menepuk dadanya.
“Aku bukan manusia biasa lagi! Aku Prabu Pancala!”
Kumbayana tersenyum pahit.
Baca Juga: Harga Pertamax Naik, Antrean Pertalite Mengular di Pacitan
“Jadi benar... takhta telah memakan dirimu.”
Suasana istana mulai gaduh. Para raja berdiri. Bisikan-bisikan berubah menjadi suara yang semakin keras.
“Ini penghinaan!”
“Usir dia!”
Drupada mulai gelisah. Bukan karena kata-kata Kumbayana, melainkan karena tatapan para tamu yang tertuju kepadanya.
“Pergi dari hadapanku!” teriaknya.
Kumbayana tidak bergerak.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani