Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Drupada menatapnya. “Ancamanmu tidak berarti apa-apa!”
Kumbayana menjawab pelan. “Tidak hari ini... tetapi kelak kau akan mengerti.”
Dengan langkah tertatih, Kumbayana keluar dari istana.
Tidak ada yang menghentikannya. Tidak ada yang memanggilnya.
Namun, setiap langkahnya meninggalkan sesuatu yang tak terlihat. Sebuah api yang kelak membakar takdir Pancala.
Hari itu, Pancala tidak hanya menobatkan seorang raja.
Pancala juga menciptakan sebuah luka yang tidak akan pernah sembuh.
Dan dari luka itulah lahir kisah yang mengguncang dunia wayang. Kisah tentang kehormatan yang dihina, persaudaraan yang hancur, dan balas dendam yang tak terhindarkan.
Baca Juga: Lebih Sporty! Intip Ubahan dan Spesifikasi Lengkap Suzuki Fronx Sport yang Dijual Rp 455 Jutaan
Di luar Istana Pancala, Kumbayana berhenti sejenak sebelum benar-benar pergi.
Dengan suara lirih, ia berkata,
“Apakah engkau masih ingat dirimu yang dulu, Sucitra?”
Di dalam benaknya, seolah Drupada menjawab,
“Aku kini adalah raja, bukan lagi saudaramu yang dahulu.”
Kumbayana menunduk.
“Jika takhta membuatmu lupa diri, maka aku yang akan mengingatkan dunia tentang siapa dirimu dahulu.”
Dalam keheningan, seolah Drupada kembali membalas,
“Dan jika itu jalanmu, biarlah takdir yang menentukan.”
Keduanya akhirnya berpisah dalam sunyi.
Terpisah oleh takhta, waktu, dan luka yang tak akan pernah kembali seperti semula.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani