Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Perdebatan berlangsung cukup lama. Bima yang sedari tadi mendengarkan hanya menggaruk kepala.
“Waduh...”
Semua menoleh. “Kalian semua benar.”
“Lalu siapa yang salah?” tanya Arjuna.
“Itulah yang membuat kepalaku pusing.”
Bima lalu berdiri. “Kalau begitu, sudah waktunya memanggil seseorang.”
“Siapa?” tanya Puntadewa.
Bima tersenyum. “Kakang Semar.”
Baca Juga: Cerpen Wejangan Semar 1: Amarta Terancam Krisis Pangan
Tidak lama kemudian, terdengar langkah santai memasuki pendapa.
“Lho, para Pandawa sedang rapat besar rupanya.”
Semua tersenyum. Semar datang dengan wajah tenang.
Bima segera menghampirinya.
“Kakang Semar, tolong selamatkan kepalaku.”
Semar tertawa kecil. “Memangnya kenapa?”
Padahal, Semar sudah mengetahui segalanya.
“Pusing.”
“Pantas. Terlalu banyak dipakai berpikir.”
Suasana yang semula tegang mulai mencair.
Puntadewa lalu mempersilakan Semar duduk. “Kakang Semar, negeri sedang mengalami kesulitan,” keluh Puntadewa.
“Aku sudah mendengarnya.”
Arjuna kemudian menjelaskan usulnya. Nakula dan Sadewa pun menyampaikan keberatan mereka.
Semar mendengarkan semuanya tanpa memotong satu katapun.
Setelah semua selesai berbicara, ia memandang satu per satu wajah para Pandawa. Kemudian, ia berkata pelan, “Yang aku dengar bukan perdebatan.”
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani