Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Cerpen Wejangan Semar 4: Hakikat Kepemimpinan Sejati

Ki Damar • Senin, 15 Juni 2026 | 16:03 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Semar.
Ilustrasi tokoh wayang Semar.

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

Semua terkejut.

“Bukan?” tanya Arjuna.

“Bukan.”

Semar tersenyum memandang para Pandawa. “Lalu apa?”

“Aku mendengar orang-orang yang sama-sama mencintai Amarta.”

Pendapa menjadi tenang.

Semar melanjutkan, “Arjuna benar.”

Arjuna menoleh.

“Rakyat membutuhkan pangan. Negara tidak bisa hidup hanya dengan rencana.”

Baca Juga: Cerpen Wejangan Semar 1: Amarta Terancam Krisis Pangan

Kemudian Semar memandang Nakula dan Sadewa.

“Namun, kalian juga benar. Alam tidak boleh dikorbankan demi keuntungan sesaat.”

Puntadewa bertanya, “Lalu apa jalan keluarnya, Kakang Semar?”

Semar tersenyum.

“Jalan keluar seorang pemimpin bukanlah memilih siapa yang menang dalam perdebatan, melainkan mengambil kebaikan dari semua pendapat.”

Semua memperhatikan.

Semar menunjuk peta Amarta.

“Pertama, hidupkan kembali lahan-lahan tidur. Kedua, perbaiki irigasi dan saluran air. Ketiga, bantu petani dengan ilmu, alat, dan bibit. Keempat, awasi para penimbun yang mempermainkan harga pangan. Karena sering kali masalah pangan bukan disebabkan tanah yang kurang subur, melainkan manusia yang kurang bijaksana.”

Puntadewa mengangguk perlahan.

Semar kemudian menatap langsung ke arah sang raja.

“Ndara Puntadewa, ketika negara sedang mengalami kesulitan, seorang pemimpin biasanya tergoda untuk mengambil jalan tercepat. Padahal, jalan tercepat sering kali menjadi jalan yang paling mahal. Mahal bagi rakyat. Mahal bagi alam. Dan mahal bagi masa depan.”

Pendapa menjadi hening.

Tidak ada seorang pun yang menyela.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#cerpen #Pandawa #semar #wayang