Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Cerpen Wejangan Semar 5 Habis: Jangan Sampai Rakyat Kenyang Hari Ini, Lapar Esok Hari

Ki Damar • Senin, 15 Juni 2026 | 17:10 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Semar.
Ilustrasi tokoh wayang Semar.

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

Matahari mulai condong ke barat. Sinar keemasan masuk melalui celah-celah pendapa.

Semar perlahan berdiri. Sebelum melangkah pergi, ia memandang seluruh Pandawa.

“Kalian tahu mengapa bangsa-bangsa besar akhirnya runtuh?”

Tidak ada yang menjawab.

“Karena mereka terlalu sibuk mengambil dari alam, tetapi lupa mengembalikannya.”

Semua terdiam.

Semar melanjutkan dengan suara yang lebih dalam.

“Mencintai bangsa bukan berarti menghabiskan hutan demi kemakmuran sesaat. Bukan pula membiarkan rakyat menderita atas nama kelestarian. Mencintai bangsa adalah menjaga keseimbangan keduanya.”

Ia lalu menunjuk ke arah tanah Amarta yang tampak hijau dari kejauhan.

Baca Juga: Cerpen Wejangan Semar 1: Amarta Terancam Krisis Pangan

“Tanah ini bukan warisan nenek moyang yang bebas kalian habiskan. Tanah ini adalah titipan anak cucu yang harus kalian jaga.”

Nakula dan Sadewa menundukkan kepala. Arjuna pun terdiam. Puntadewa merasakan setiap kata itu menembus hatinya.

Semar tersenyum kecil.

“Jangan sampai rakyat kenyang hari ini, tetapi lapar esok hari karena hutannya habis. Dan jangan pula hutan tetap hijau sementara rakyat kelaparan. Carilah jalan tengah yang adil. Itulah darma seorang pemimpin.”

Angin sore berembus lembut. Daun-daun pepohonan di sekitar istana bergoyang pelan, seolah ikut mendengarkan.

Semar kemudian melangkah meninggalkan pendapa.

Sebelum benar-benar pergi, ia menoleh dan berkata,

“Negeri yang kuat bukanlah negeri yang paling banyak menebang pohon atau paling banyak menyimpan kekayaan. Namun, negeri yang pemimpinnya mampu mendengar jeritan rakyat tanpa menutup telinga terhadap suara alam.”

Pandawa terdiam dalam perenungan.

Sejak hari itu, Amarta memilih membangun kembali lahan-lahan terlantar, memperkuat pertanian dan peternakan, serta menjaga hutan tetap lestari.

Karena mereka akhirnya memahami bahwa kemakmuran sejati bukanlah kemenangan manusia atas alam, melainkan persahabatan manusia dengan alam demi kesejahteraan seluruh rakyat.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#cerpen #Pandawa #semar #wayang