Cerita Wayang oleh Ki Damar*
Malam turun perlahan di Negeri Mandaraka. Angin yang biasanya membawa kesejukan terasa begitu berat bagi seorang kesatria muda yang tengah duduk bersimpuh di lantai pendapa kerajaan.
Kepalanya tertunduk, sementara kedua matanya menatap kosong ke arah taman yang mulai diselimuti cahaya bulan.
Dialah Burisrawa, putra mahkota Mandaraka.
Di hadapannya duduk seorang raja tua yang terkenal akan kebijaksanaannya, Prabu Salya.
Selama ini, sang ayah selalu menjadi tempat Burisrawa bertanya tentang kehidupan maupun peperangan. Namun malam itu, bukan persoalan perang yang membuat hatinya terluka.
Bukan pula kekalahan di medan laga. Luka yang ia rasakan berasal dari sesuatu yang jauh lebih dalam, yaitu cinta.
Prabu Salya memandangi putranya yang terdiam sejak sore.
"Apa yang membuatmu bersedih seperti ini, Anakku?"
Baca Juga: Sekda Kabupaten Madiun Gagas Literasi Sejarah, Ingin Generasi Muda Kenal Warisan Daerah
Burisrawa tidak segera menjawab. Beberapa saat kemudian, ia menyandarkan kepalanya di pangkuan sang ayah, seperti ketika masih kecil dahulu. Prabu Salya terkejut. Sudah lama putranya tidak bersikap demikian.
"Ayahanda..." suara Burisrawa bergetar.
"Aku kalah."
Prabu Salya mengelus rambut putranya dengan lembut. "Kalah dalam perang?"
Burisrawa menggeleng pelan. "Tidak," jawab Burisrawa sambil menundukkan kepala.
"Lalu?"
Burisrawa memejamkan mata. "Kalah dalam cinta."
Malam terasa semakin sunyi. Prabu Salya menghela napas panjang.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani