Cerita Wayang oleh Ki Damar*
"Aku tidak membenci Permadi."
"Aku bahkan tidak membenci takdir."
Kesatria Mandaraka itu tersenyum. Namun senyum itulah yang justru membuat hati Subadra semakin hancur.
"Aku hanya ingin engkau tahu bahwa ada seseorang yang akan terus mengingatmu."
"Meski dari kejauhan."
"Meski dalam kesunyian."
"Meski tanpa pernah memiliki."
Air mata Subadra kini mengalir tanpa mampu ditahan lagi. Mengapa kata-kata yang begitu lembut justru terasa lebih menyakitkan daripada kemarahan?
"Burisrawa..."
Baca Juga: Cerpen Wayang Mbok Bodro 3, Pengakuan Cinta Burisrawa yang Terlambat
Untuk pertama kalinya malam itu, ia menyebut nama kesatria tersebut tanpa gelar.
"Aku..."
Namun kata-katanya terhenti.
Apa yang bisa ia katakan?
Ia tidak mungkin membalas cinta itu. Ia juga tidak ingin melukai hati seseorang yang begitu tulus mencintainya.
Pada akhirnya, ia hanya mampu berucap pelan,
"Terima kasih."
Burisrawa tersenyum.
"Sudah cukup."
"Karena cinta tidak selalu harus memiliki."
Baca Juga: Cerpen Wayang Mbok Bodro 2, Pertemuan Terakhir sebelum Pernikahan Subadra
"Lihatlah aku, Bodro."
Subadra mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata.
"Aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu."
"Walaupun kebahagiaan itu bukan bersamaku."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Burisrawa berbalik dan melangkah pergi.
Ia berjalan menyusuri lorong taman istana yang diterangi cahaya bulan. Setiap langkah terasa semakin berat, seolah sebagian hatinya tertinggal di tempat itu.
Di tempat mereka berdiri beberapa saat sebelumnya, Dewi Subadra masih terdiam. Air matanya terus mengalir, sementara bayangan punggung Burisrawa perlahan menjauh dan akhirnya lenyap dalam temaram malam.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani