Cerita Wayang oleh Ki Damar*
Ketika sampai di gerbang luar istana, Burisrawa berhenti sejenak. Ia menoleh ke arah taman tempat Dewi Subadra masih berdiri. Dari kejauhan, ia masih dapat melihat bayangan perempuan yang selama ini memenuhi ruang hatinya.
Burisrawa tersenyum tipis, meskipun air mata akhirnya jatuh tanpa mampu ia tahan.
"Selamat berbahagia, Mbok Bodro," bisiknya kepada angin malam.
"Bila suatu saat engkau mengingatku, cukuplah kenang aku sebagai seseorang yang pernah mencintaimu dengan sungguh-sungguh."
Di taman yang mulai diselimuti cahaya bulan, Dewi Subadra masih memandangi kepergian Burisrawa. Entah mengapa, seakan ada bisikan yang sampai ke hatinya.
Dengan suara bergetar, ia berkata pelan, meskipun tahu lelaki itu mungkin sudah tidak dapat mendengarnya lagi.
"Kakang Burisrawa, maafkan aku bila takdir tidak berpihak pada perasaanmu."
Air matanya kembali mengalir.
"Aku tidak mampu membalas cintamu, tetapi aku akan selalu menghormati ketulusan hatimu."
Baca Juga: Cerpen Wayang Mbok Bodro 3, Pengakuan Cinta Burisrawa yang Terlambat
Sementara itu, Burisrawa melanjutkan langkahnya menuju Mandaraka tanpa menoleh lagi.
Malam perlahan menelan bayangannya sedikit demi sedikit, meninggalkan kenangan yang akan hidup di hati mereka sepanjang usia.
Perlahan.
Tanpa menoleh.
Tanpa kembali.
Subadra berdiri mematung.
Ia memperhatikan sosok itu semakin jauh.
Semakin kecil.
Hingga akhirnya hilang di balik tembok istana.
Malam itu tidak ada teriakan.
Baca Juga: Cerpen Wayang Mbok Bodro 2, Pertemuan Terakhir sebelum Pernikahan Subadra
Tidak ada perebutan.
Tidak ada dendam.
Yang ada hanyalah seorang lelaki yang memilih menyimpan cintanya dalam diam.
Dan seorang perempuan yang tidak mampu membalas cinta itu, tetapi akan selalu menghormati ketulusannya.
Di atas langit yang sunyi, bulan bersinar redup seakan ikut menjadi saksi. Bahwa terkadang cinta yang paling tulus bukanlah cinta yang berhasil memiliki, melainkan cinta yang mampu melepaskan dengan hati yang tetap dipenuhi kasih.
Karena tidak semua kisah cinta ditakdirkan untuk bersatu.
Namun beberapa di antaranya ditakdirkan untuk dikenang selamanya.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani