Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Angin bertiup tidak seperti biasanya di Negeri Amarta. Langit lebih sering diselimuti mendung meskipun musim hujan belum tiba.
Hamparan sawah yang dahulu menghijau kini tampak kurang subur.
Hasil panen rakyat terus menurun dari waktu ke waktu, sementara di beberapa wilayah mulai muncul wabah yang membuat kehidupan masyarakat dipenuhi kecemasan dan ketakutan.
Keadaan itu membuat Prabu Puntadewa tidak dapat hidup tenang. Sebagai raja Amarta, ia merasa bertanggung jawab atas segala kesulitan yang sedang menimpa rakyatnya.
Pada suatu hari, di pendapa kerajaan yang megah, Puntadewa duduk termenung dengan wajah muram.
Pandangannya kosong menatap kejauhan, seakan mencari jawaban atas berbagai musibah yang datang silih berganti.
"Apakah para dewa sedang murka kepada Amarta?" gumamnya lirih.
Para Pandawa yang berada di sana hanya saling berpandangan. Tidak seorang pun mampu memberikan jawaban yang pasti atas pertanyaan tersebut.
Baca Juga: Cerpen Wayang Mbok Bodro 1, Burisrawa Tersungkur akibat Cinta
Tak lama kemudian, datanglah seorang tamu yang sangat dihormati oleh keluarga Pandawa. Ia adalah Prabu Kresna dari Dwarawati.
Melihat kedatangan sahabat sekaligus pamong yang sangat diseganinya itu, Puntadewa segera bangkit dari tempat duduknya.
"Kakang Kresna, kedatanganmu seperti embun di tengah kemarau," sambut Puntadewa dengan penuh hormat.
Kresna tersenyum tipis.
"Aku datang membawa jalan keluar."
Mendengar ucapan itu, seluruh penghuni pendapa langsung menaruh harapan besar kepadanya.
Puntadewa pun segera bertanya, "Apakah yang harus kami lakukan agar negeri ini terbebas dari segala bencana?"
Kresna menatap lurus ke arah Puntadewa. Sorot matanya tampak tenang, tetapi kata-kata yang keluar dari mulutnya membuat suasana berubah seketika.
"Kalimasada harus dikubur."
Mendadak pendapa menjadi sunyi. Tidak ada seorang pun yang langsung menanggapi ucapan itu. Para Pandawa saling berpandangan dengan wajah penuh keheranan.
Puntadewa mengerutkan kening. "Kalimasada?"
"Benar," jawab Kresna singkat.
Puntadewa masih tampak bingung. "Kangmas, bukankah Kalimasada adalah pusaka kebanggaan Amarta?" tanyanya polos.
"Justru karena itulah," jawab Kresna.
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan perkataannya. "Kuburkan Kalimasada ke dalam bumi. Setelah itu, bencana yang menimpa Amarta akan pergi."
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani