Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Cerpen Wayang Sadewa Krida Bagian 2, Perdebatan di Pendapa Amarta

Ki Damar • Jumat, 19 Juni 2026 | 17:05 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Sadewa.
Ilustrasi tokoh wayang Sadewa.

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

Puntadewa terdiam cukup lama. Selama ini, ia hampir tidak pernah meragukan nasihat yang diberikan oleh Kresna.

Sahabat sekaligus pamong yang sangat dihormatinya itu selalu memiliki pandangan yang jauh melampaui orang kebanyakan.

Karena itulah, Puntadewa yakin bahwa perintah tersebut pasti memiliki alasan yang belum ia pahami.

Setelah berpikir sejenak, ia akhirnya menganggukkan kepala.

"Baiklah. Jika itu memang jalan keselamatan bagi negeri ini, akan kulaksanakan."

Namun, belum sempat keputusan itu diterima semua orang, terdengar sebuah suara tegas dari sudut pendapa.

"Aku tidak setuju."

Seluruh perhatian segera tertuju ke arah sumber suara itu.

Baca Juga: Cerita Inspiratif Jufriyah, Ibu Rumah Tangga yang Sukses Kembangkan Bisnis lewat LinkUMKM BRI

Sadewa berdiri dari tempat duduknya. Pandawa termuda tersebut kemudian melangkah perlahan menuju tengah pendapa. Wajahnya tampak tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan keyakinan yang tidak tergoyahkan.

"Kakang Puntadewa, sebelum mengambil keputusan, izinkan aku mengajukan sebuah pertanyaan."

Puntadewa menatap adiknya dengan heran.

"Katakanlah."

Sadewa menarik napas panjang sebelum berbicara.

"Apakah Kakang benar-benar memahami arti Kalimasada?"

"Tentu," jawab Puntadewa singkat.

Sadewa menggeleng pelan.

"Kalimasada bukan hanya sebuah pusaka."

"Benar."

"Kalimasada adalah pedoman."

Ucapan itu membuat Puntadewa terdiam. Sadewa pun melanjutkan perkataannya dengan suara yang mantap.

"Kalimasada adalah pegangan hidup bagi rakyat Amarta. Ia menjadi simbol kejujuran, simbol keadilan, dan simbol harapan yang selama ini dijunjung tinggi oleh seluruh rakyat."

Suasana pendapa semakin hening. Tidak seorang pun berani menyela.

Sadewa lalu menatap kakaknya dalam-dalam.

"Kakang hendak mengubur apa sebenarnya?"

Puntadewa tidak segera menjawab. Pertanyaan itu terasa lebih berat daripada yang terlihat.

Melihat kakaknya masih terdiam, Sadewa kembali melanjutkan ucapannya, kali ini dengan suara yang lebih lantang.

"Jika Kalimasada dikubur, bukankah itu berarti kita mengubur panutan rakyat?"

Para Pandawa mulai menyimak dengan lebih serius.

"Kita mengubur nilai-nilai yang selama ini menjaga Amarta."

Baca Juga: Jadwal Moto3 Ceko 2026 Hari Ini: Veda Ega Pratama Membalap Jam Berapa?

"Kita mengubur harapan."

"Kita mengubur kepercayaan."

Setiap kalimat yang keluar dari mulut Sadewa membuat keraguan mulai tumbuh di hati Puntadewa. Wajah Raja Amarta itu tampak semakin bimbang.

Namun akhirnya ia menoleh kepada adik bungsunya dan berkata, "Tetapi ini adalah saran dari Kresna."

Ucapan itu meluncur pelan, seolah menjadi alasan terakhir yang masih dipegangnya untuk mempertahankan keputusan tersebut.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#cerpen wayang #cerpen #sadewa #Cerita Wayang