Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Cerpen Wayang Sadewa Krida Bagian 3, Teguran untuk Sang Raja

Ki Damar • Jumat, 19 Juni 2026 | 18:01 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Sadewa.
Ilustrasi tokoh wayang Sadewa.

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

Sadewa menatap kakaknya dengan sorot mata yang mantap.

"Justru karena itulah aku merasa heran."

Puntadewa mengernyitkan dahi.

"Hah? Heran bagaimana?"

Sadewa tidak langsung menjawab. Ia terlebih dahulu memastikan seluruh penghuni pendapa mendengar apa yang akan disampaikannya.

"Seorang pemimpin tidak boleh menerima setiap nasihat tanpa berpikir terlebih dahulu."

Suasana pendapa mendadak terasa tegang. Beberapa abdi kerajaan menundukkan kepala.

Mereka tidak berani menunjukkan reaksi apa pun karena menyadari bahwa perdebatan yang sedang berlangsung menyangkut keputusan penting bagi masa depan Amarta.

Namun Sadewa tidak bergeming. Dengan tenang ia melanjutkan perkataannya.

"Kakang adalah seorang raja."

"Ya," jawab Puntadewa singkat.

"Dan seorang raja wajib menggunakan akalnya. Kakang tidak boleh hanya berkata, 'Karena ini sebuah perintah, maka harus dilaksanakan.'"

Puntadewa terdiam. Ia tidak segera menemukan jawaban untuk membantah ucapan adiknya itu.

Sadewa pun meneruskan argumennya.

"Jika setiap kebijakan diterima tanpa mempertimbangkan akibatnya, lalu apa gunanya seorang pemimpin?"

Kata-kata itu terasa tajam dan langsung mengenai sasaran. Bahkan Werkudara yang sejak tadi hanya menyimak mulai menganggukkan kepala pelan, seolah mengakui kebenaran ucapan Sadewa.

Setelah itu, Sadewa mengalihkan pandangannya ke arah Kresna.

"Kalimasada bukan sumber bencana," tuturnya lirih, tetapi penuh ketegasan.

Baca Juga: Cerita Inspiratif Jufriyah, Ibu Rumah Tangga yang Sukses Kembangkan Bisnis lewat LinkUMKM BRI

"Lalu?" tanya Kresna.

"Yang menjadi sumber bencana adalah manusia yang meninggalkan ajaran Kalimasada."

Ucapan itu segera memunculkan bisik-bisik di antara para penghuni pendapa. Mereka mulai merenungkan makna yang terkandung di dalamnya.

Sadewa kembali melanjutkan.

"Jangan salahkan panutannya."

"Jangan salahkan nilai-nilainya."

"Yang harus diperbaiki adalah perilaku manusianya."

Puntadewa perlahan menundukkan kepala. Kata-kata adiknya membuat pikirannya semakin terusik.

Melihat hal itu, Sadewa berbicara lebih dalam lagi, seolah ingin menyentuh akar persoalan yang sebenarnya.

"Kakang, bila rakyat kehilangan teladan, negara akan hancur."

"Bila rakyat kehilangan kepercayaan, negara akan runtuh."

"Dan bila seorang pemimpin mengorbankan nilai-nilai demi menyelesaikan masalah sesaat, maka sesungguhnya negara telah kalah bahkan sebelum bencana itu datang."

Pendapa kembali diliputi keheningan.

Tak seorang pun berani memotong ucapannya. Kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Sadewa terasa begitu berat dan sulit dibantah.

Sementara itu, Puntadewa hanya terdiam. Untuk pertama kalinya sejak usulan mengubur Kalimasada disampaikan, ia tidak mampu segera memberikan jawaban.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#cerpen wayang #Sadewa Krida #cerpen #sadewa #Cerita Wayang