Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Tiba-tiba Kresna tertawa.
Namun, tawa yang terdengar saat itu terasa berbeda dari biasanya. Tidak ada ketenangan atau kebijaksanaan yang selama ini melekat pada dirinya.
Sebaliknya, tawa itu terdengar asing dan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi siapa pun yang mendengarnya.
"Hehehe..."
Belum sempat siapa pun bereaksi, suasana pendapa mendadak berubah. Langit yang semula terang menjadi gelap. Angin dingin berputar memasuki ruangan, membuat tirai dan lampu-lampu bergoyang tanpa sebab yang jelas.
Sadewa segera berdiri dengan penuh kewaspadaan.
"Itu bukan Kresna!"
Seruan itu membuat semua orang terkejut.
Mereka memandang ke arah sosok yang selama ini mereka yakini sebagai Prabu Kresna. Perlahan-lahan tubuhnya mulai berubah.
Wajah yang semula tampak teduh berubah menjadi menyeramkan. Matanya menyala merah seperti bara api. Rambutnya terurai panjang dan berkibar diterpa angin yang berputar di dalam pendapa.
Para abdi kerajaan menjerit ketakutan.
"Batari Durga!" teriak Arjuna.
Makhluk itu tertawa semakin keras.
"Aku hampir berhasil memperdaya kalian!"
Batari Durga lalu mengalihkan pandangannya kepada Puntadewa.
"Raja yang terlalu polos memang mudah ditipu."
Mendengar ucapan itu, Puntadewa hanya bisa menundukkan kepala. Ia menyadari betapa dekatnya Amarta dengan sebuah kesalahan besar.
Durga kembali tertawa mengejek.
"Andai Kalimasada benar-benar dikubur, Amarta akan kehilangan pegangan hidupnya."
Ucapan itu membuat semua orang memahami maksud sebenarnya dari tipu daya tersebut. Bukan sekadar menghilangkan sebuah pusaka, melainkan menghancurkan nilai-nilai yang selama ini menjadi penuntun kehidupan rakyat Amarta.
Ketika keadaan semakin menegangkan, tiba-tiba terdengar suara tawa yang sangat dikenal dari luar pendapa.
"Hehehe... ternyata masih ada yang gemar menyebar tipu daya."
Seluruh penghuni pendapa menoleh ke arah suara itu.
Dari kejauhan tampak Semar berjalan santai memasuki pendapa. Wajahnya terlihat tenang seperti biasa, seolah tidak ada bahaya yang sedang mengancam.
Namun, begitu melihat kedatangannya, ekspresi Batari Durga langsung berubah.
"Semar!"
Semar hanya menganggukkan kepala pelan.
"Batari, tempatmu bukan di sini."
Baca Juga: Bursa Transfer Juventus: Jonathan David Menolak Dijual, Rencana Beli Striker Baru Kian Rumit
Durga mendesis marah. Aura gelap yang menyelimuti tubuhnya semakin kuat.
Akan tetapi, pada saat yang sama, cahaya putih memancar dari tubuh Semar. Cahaya itu semakin terang hingga memenuhi seluruh pendapa. Kegelapan yang sebelumnya menguasai ruangan perlahan tersingkir.
Batari Durga menjerit kesakitan.
Tubuhnya mulai memudar sedikit demi sedikit, diselimuti asap hitam yang berputar-putar di sekelilingnya.
"Aku akan kembali!" teriaknya penuh amarah.
Sesaat kemudian, sosok Batari Durga lenyap tanpa bekas.
Angin berhenti berembus. Cahaya kembali memenuhi pendapa. Suasana yang semula mencekam berubah tenang seperti sediakala.
Puntadewa memandang ke arah Sadewa. Wajah Raja Amarta itu dipenuhi rasa syukur sekaligus penyesalan.
"Adikku, hari ini engkau telah menyelamatkan Amarta."
Matanya tampak berkaca-kaca saat mengucapkan kalimat tersebut.
Sadewa segera menundukkan kepala dengan hormat.
"Aku hanya mengingatkan, Kakang."
Puntadewa menghela napas panjang. Pengalaman yang baru saja terjadi menjadi pelajaran berharga baginya sebagai seorang pemimpin.
"Lalu, apa pelajaran yang harus selalu kuingat?"
Sadewa menatap kakaknya dengan penuh hormat sebelum menjawab dengan suara pelan.
"Bahwa seorang pemimpin harus mendengar banyak suara."
"Bahwa seorang pemimpin harus berpikir jauh."
"Dan bahwa kebenaran tidak boleh diterima begitu saja, melainkan harus diuji dengan akal, kebijaksanaan, dan hati yang jernih."
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani