Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
"Dan bahwa kebijakan yang baik bukan hanya mampu menyelesaikan masalah hari ini, tetapi juga menjaga masa depan."
Semar tersenyum mendengar ucapan itu.
"Itulah sebabnya seorang pemimpin membutuhkan kebijaksanaan, bukan sekadar kekuasaan."
Sinar matahari sore perlahan memasuki pendapa Amarta. Suasana yang sebelumnya dipenuhi ketegangan kini berubah menjadi tenang. Kalimasada tetap berada di tempatnya, tidak dijadikan tumbal dan tidak pula dikubur sebagaimana rencana yang sempat muncul akibat tipu daya Batari Durga.
Namun Durga masih belum menerima kekalahannya.
Ia tertawa keras sambil menatap penghuni pendapa.
"Puntadewa terlalu polos. Jika ia tertipu, itu salahnya sendiri!"
Semar melangkah maju dengan wajah tetap tenang.
"Batari Durga, pemimpin yang jujur memang dapat melakukan kesalahan. Akan tetapi, memperdaya orang yang jujur adalah kesalahan yang jauh lebih besar."
Durga mendesis penuh amarah.
"Siapa yang akan menghukumku?"
Nada suaranya terdengar menantang.
Semar tidak menunjukkan rasa gentar sedikit pun. Ia justru tersenyum dengan ketenangan yang sulit dijelaskan.
"Bukan hanya rakyat yang akan menghukummu. Alam juga akan memberi hukuman setimpal. Ketika kebatilan berusaha menjatuhkan pemimpin yang masih memegang kebenaran, langit dan bumi tidak akan tinggal diam."
Baca Juga: Cerpen Wayang Mbok Bodro 1, Burisrawa Tersungkur akibat Cinta
Sesaat kemudian, cahaya putih memancar dari tubuh Semar dan memenuhi seluruh pendapa.
"Pergilah, wahai Durga. Amarta tidak membutuhkan tipu daya, melainkan kebijaksanaan."
Batari Durga menjerit keras. Tubuhnya perlahan memudar, berubah menjadi asap hitam yang kemudian diterbangkan angin hingga lenyap tanpa bekas.
Pendapa kembali terang.
Keheningan menyelimuti ruangan sejenak sebelum Puntadewa menundukkan kepala dengan penuh penyesalan.
"Aku hampir mengubur Kalimasada karena kurang berpikir jauh."
Sadewa memandang kakaknya dengan hormat, lalu berkata pelan,
"Seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki hati yang baik, Kakang. Ia juga harus berpikir bijaksana sebelum mengambil keputusan."
Semar mengangguk sambil tersenyum.
"Karena sebuah negeri tidak akan hancur saat bencana datang. Negeri akan hancur ketika kebenaran dan panutannya dikubur oleh pemimpinnya sendiri."
Kata-kata itu tertanam kuat di hati seluruh penghuni pendapa.
Sejak hari itu, Kalimasada tetap dijaga sebagai cahaya bagi Amarta. Pusaka tersebut tidak hanya dipandang sebagai warisan kerajaan, melainkan juga sebagai pengingat akan nilai-nilai yang harus terus dijaga.
Sementara itu, Puntadewa memperoleh pelajaran yang sangat berharga. Ia memahami bahwa kejujuran saja belum cukup untuk memimpin sebuah negeri.
Kejujuran harus berjalan berdampingan dengan kebijaksanaan agar setiap keputusan yang diambil tidak hanya menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga menjaga masa depan.
Karena hanya dengan kejujuran dan kebijaksanaan yang berjalan bersama, sebuah negeri akan mampu bertahan menghadapi perubahan zaman dan segala ujian yang datang silih berganti.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani