Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
"Laut ini terlalu luas."
"Tambak ini belum tentu berhasil."
"Mengapa kalian harus mengorbankan tenaga demi peperangan manusia?"
Kalimat-kalimat itu terus diucapkan Janggisrana di sela-sela waktu istirahat para kera. Nada bicaranya terdengar biasa saja, tetapi kata-katanya perlahan mulai memengaruhi pikiran mereka.
Beberapa kera saling berpandangan.
"Benar juga."
"Kita sudah bekerja begitu lama."
"Belum tentu usaha ini berhasil."
Keraguan yang sebelumnya tidak pernah muncul kini mulai tumbuh di hati sebagian pasukan. Melihat hal itu, Janggisrana tersenyum dalam hati. Rencananya berjalan lebih baik daripada yang ia perkirakan.
Sedikit demi sedikit semangat pasukan kera mulai goyah.
Namun pada saat itulah sebuah suara keras terdengar dari belakang.
"Itu bohong!"
Suasana seketika berubah.
Seluruh pasukan menoleh ke arah sumber suara. Tampak Gunawan Wibisana melangkah maju dengan wajah serius.
Janggisrana langsung menegang.
Sementara itu, Sugriwa yang berdiri tidak jauh darinya mengernyitkan dahi.
"Mengapa kau berkata demikian, Gunawan?"
Gunawan tidak segera menjawab. Pandangannya justru tertuju lurus kepada kera asing yang selama beberapa hari terakhir berada di tengah-tengah mereka.
Kemudian ia mengangkat tangan dan menunjuk ke arah Janggisrana.
"Karena dia bukan Kapi Srani."
Ucapan itu membuat suasana mendadak sunyi.
Para kera saling berpandangan dengan wajah bingung.
Sugriwa bahkan sempat tertawa kecil.
"Jangan terlalu curiga. Dia seekor kera seperti kita."
Namun Gunawan Wibisana menggeleng tegas.
"Tidak."
"Lalu siapa dia?" tanya Sugriwa.
Baca Juga: Bursa Transfer Juventus: Jonathan David Menolak Dijual, Rencana Beli Striker Baru Kian Rumit
Dengan suara mantap, Gunawan menjawab, "Dia seorang raksasa dari Alengka."
Mendengar tuduhan itu, jantung Janggisrana berdegup lebih cepat. Meski berusaha tetap tenang, kegugupan mulai tampak di wajahnya.
Sementara itu, Sugriwa masih belum dapat mempercayai tuduhan tersebut.
"Apa buktinya?"
Gunawan melangkah semakin dekat hingga berdiri tepat di hadapan kera asing itu. "Kau mengaku bernama Kapi Srani?"
"Benar," jawab Janggisrana cepat.
"Kalau begitu, kau telah berbohong."
Untuk sesaat Janggisrana terdiam. Namun ia segera memaksakan senyum agar tidak terlihat panik. "Mengapa aku harus berbohong?"
Meski terdengar tenang, dalam hatinya ia mulai menyadari bahwa penyamarannya berada di ujung tanduk.
Dan kini, seluruh pasukan kera menunggu jawaban Gunawan Wibisana yang tampaknya telah mengetahui sesuatu yang tidak diketahui orang lain.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani