Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Cerpen Wayang Janggisrana Bagian 4, Dimaafkan Musuh tapi Membuat Murka Rajanya Sendiri

Ki Damar • Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:23 WIB
Ilustrasi Alengka sebagai salah satu tempat ngeri dan penuh misteri dalam cerita wayang.
Ilustrasi Alengka sebagai salah satu tempat ngeri dan penuh misteri dalam cerita wayang.

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

"Gusti... hamba tidak dihukum?"

Suara Janggisrana terdengar lirih. Ia masih tidak percaya dengan keputusan yang baru saja didengarnya.

Rama Wijaya menatapnya dengan tenang.

"Kau memang musuh."

Janggisrana menundukkan kepala.

"Tetapi kau hanya menjalankan perintah rajamu."

Ucapan itu membuat suasana perkemahan menjadi hening. Tidak seorang pun menyangka bahwa Rama akan memandang persoalan tersebut dari sudut yang berbeda.

Kemudian Rama memberi isyarat kepada para pengawalnya.

Tak lama berselang, sebuah peti dibawa dan diletakkan di hadapannya.

Rama membuka peti itu perlahan. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebilah keris dan sekantung emas.

"Ambillah."

Janggisrana terbelalak.

"Hamba diberi hadiah?"

Ia menatap Rama Wijaya dengan wajah penuh kebingungan.

"Ya."

"Mengapa?"

Senyum tipis terukir di wajah Rama.

"Kembalilah ke Alengka."

Janggisrana masih belum memahami maksud sebenarnya.

Rama kemudian melanjutkan,

"Katakan kepada Rahwana bahwa aku tidak memerangi prajurit kecil seperti dirimu."

Suasana kembali sunyi.

"Katakan pula bahwa pintu perdamaian masih terbuka sebelum perang benar-benar dimulai."

Kata-kata itu terdengar tegas sekaligus penuh wibawa.

Dengan tangan gemetar, Janggisrana menerima keris dan sekantung emas tersebut.

Belum pernah sepanjang hidupnya ia diperlakukan semulia itu oleh seorang musuh. Ia datang sebagai mata-mata, tertangkap saat menjalankan tipu daya, tetapi justru dibebaskan dan diberi penghormatan.

Peristiwa itu terus terngiang di dalam pikirannya sepanjang perjalanan pulang menuju Alengka.

Setibanya di istana, Janggisrana segera menghadap Prabu Dasamuka Rahwana.

Raja Alengka itu duduk di atas singgasananya dengan sorot mata tajam.

"Bagaimana hasil tugasmu?"

Janggisrana segera berlutut.

"Hamba terbongkar, Gusti."

Rahwana langsung menggeram.

"Lalu?"

"Hamba ditangkap."

"Dan?"

Dengan hati-hati Janggisrana memperlihatkan keris dan sekantung emas yang dibawanya.

"Prabu Rama memberi hadiah kepada hamba."

Mata Rahwana langsung membelalak.

Baca Juga: Bursa Transfer Juventus: Jonathan David Menolak Dijual, Rencana Beli Striker Baru Kian Rumit

"Apa?!"

"Ia mengatakan bahwa hamba hanya menjalankan perintah."

Mendengar penjelasan itu, Rahwana bangkit dari singgasananya.

Wajahnya memerah karena marah.

"Jadi dia mengasihanimu?"

"Tidak begitu, Gusti..."

"Diam!"

Bentakan Rahwana mengguncang seluruh pendapa istana.

Para pengawal yang berjaga bahkan tidak berani mengangkat kepala.

Bagi Rahwana, hadiah yang diberikan Rama bukanlah sebuah penghormatan.

Dalam pandangannya, itu adalah penghinaan.

Seolah-olah Rama sedang menunjukkan kepada dunia bahwa seorang prajurit Alengka dapat ditaklukkan dengan belas kasih dan kemurahan hati.

Pemikiran itulah yang membuat amarahnya semakin membara.

Sementara itu, Janggisrana mulai gemetar.

"Hamba tetap setia kepada Alengka!"

Namun Rahwana hanya menatapnya dengan dingin.

Lalu perlahan ia tertawa.

Tawa itu tidak mengandung kegembiraan sedikit pun.

Sebaliknya, tawa tersebut terdengar seperti pertanda bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi.

"Hahaha..."

Dan semakin lama, sorot mata Rahwana membuat Janggisrana menyadari bahwa kepulangannya ke Alengka mungkin jauh lebih berbahaya daripada saat dirinya tertangkap di perkemahan musuh.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#cerpen wayang #Alengka #Janggisrana #Cerita Wayang