Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Deburan ombak terus memecah pantai selatan. Di sepanjang pesisir, ribuan pasukan kera bekerja tanpa mengenal lelah membangun tambak raksasa yang kelak akan menghubungkan daratan Bharata dengan Negeri Alengka.
Batu-batu besar diangkut dari pegunungan. Pohon-pohon raksasa ditebang lalu disusun menjadi pondasi yang kokoh.
Suara teriakan komando, hantaman batu, dan gemuruh ombak bercampur menjadi satu, menandai kesibukan yang berlangsung siang dan malam.
Di atas sebuah batu karang yang menjulang di tepi pantai, Prabu Rama Wijaya berdiri memperhatikan pekerjaan itu dengan tenang. Wajahnya tampak mantap, seolah telah melihat kemenangan yang menanti di seberang lautan.
Namun jauh di Negeri Alengka, suasana istana sama sekali tidak setenang pantai tempat tambak itu dibangun.
Prabu Dasamuka Rahwana berjalan mondar-mandir di depan singgasananya. Wajah raja raksasa itu dipenuhi kemarahan.
"Mereka benar-benar hendak menyeberang!" geramnya.
Di hadapannya bersujud seorang prajurit kepercayaan yang terkenal cerdik dan licin. Namanya Janggisrana.
"Janggisrana!"
"Hamba, Gusti Prabu."
"Pergilah ke perkemahan musuh."
Janggisrana segera mengangkat kepala.
"Perintahkan, Gusti."
Rahwana menghentikan langkahnya. Sorot matanya tajam saat menatap bawahannya itu. "Selidiki kekuatan mereka. Bila perlu, hasut pasukan kera agar berhenti membangun tambak."
Senyum tipis muncul di wajah Janggisrana. "Perintah akan hamba laksanakan."
Rahwana menganggukkan kepala. "Ingat baik-baik. Aku tidak ingin tambak itu selesai."
Perintah itu segera dijalankan.
Beberapa hari kemudian, ketika pasukan kera masih sibuk bekerja di sepanjang pantai, seekor kera asing muncul dari arah hutan. Tubuhnya dipenuhi debu dan lumpur, seolah baru menempuh perjalanan yang sangat jauh.
Baca Juga: Suzuki DR-Z4SM Model 2026 Meluncur, Supermoto Legendaris Kini Tampil Lebih Agresif
Ia berjalan mendekati para pekerja sambil tersenyum ramah.
"Aku Kapi Srani," katanya memperkenalkan diri.
Para kera menyambutnya tanpa rasa curiga. Di tengah perjuangan besar yang sedang mereka jalani, kedatangan seekor kera baru bukanlah sesuatu yang dianggap aneh.
Tidak seorang pun mengetahui bahwa kera asing itu sebenarnya adalah Janggisrana yang sedang menjalankan penyamaran.
Hari demi hari, ia mulai berbaur dengan para pekerja. Ia membantu mengangkat batu, ikut bercakap-cakap saat beristirahat, dan perlahan memperoleh kepercayaan dari banyak kera.
Setelah merasa waktunya tepat, ia mulai menebarkan benih-benih keraguan.
Pada suatu hari, ketika para kera sedang beristirahat setelah bekerja keras, Janggisrana membuka pembicaraan.
"Wahai saudara-saudaraku, mengapa kalian harus bersusah payah mengangkat batu-batu sebesar ini?"
Beberapa kera menoleh kepadanya.
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Namun tanpa mereka sadari, itulah awal dari siasat yang telah disusun Janggisrana untuk menggoyahkan semangat pasukan Rama dari dalam.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani