Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Gunawan Wibisana menjawab dengan tegas,
"Karena Kapi Srani telah gugur bertahun-tahun yang lalu dalam peperangan melawan raksasa Alengka."
Mendengar penjelasan itu, pasukan kera langsung mulai bergumam. Mereka saling berpandangan dan menatap kera asing yang selama ini mereka terima sebagai saudara sendiri.
Sugriwa masih berusaha berpikir tenang.
"Mungkin hanya kebetulan namanya sama."
Namun Gunawan segera menggeleng.
"Tidak mungkin. Kapi Srani adalah nama yang dikenal oleh seluruh pasukan kera. Tidak ada seorang pun yang tidak mengetahui kisahnya."
Ucapan itu membuat suasana semakin tegang.
Baca Juga: Cerita Inspiratif Jufriyah, Ibu Rumah Tangga yang Sukses Kembangkan Bisnis lewat LinkUMKM BRI
"Lalu bagaimana cara membuktikannya?" tanya Sugriwa.
Senyum tipis muncul di wajah Gunawan.
"Mudah."
Ia melangkah maju dan berdiri tepat di hadapan Janggisrana.
"Kalau kau benar-benar bangsa kera, tirukan suara kera."
Mendengar tantangan itu, pasukan kera langsung bersorak.
"Benar!"
"Buktikan!"
"Kalau memang kera, tentu mudah melakukannya!"
Janggisrana mulai berkeringat. Untuk pertama kalinya sejak menyusup ke perkemahan musuh, ia benar-benar merasa terpojok.
Dengan susah payah ia mencoba mengeluarkan suara.
"Uk... uk..."
Seketika para kera tertawa.
"Itu bukan suara kera!"
"Bahkan anak kera pun bisa bersuara lebih baik!"
Gunawan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Coba sekali lagi."
Janggisrana semakin panik. Ia berusaha mengingat segala bentuk penyamaran yang telah dipelajarinya, tetapi tidak pernah ada yang mengajarinya bagaimana menirukan suara kera dengan sempurna.
Ia pun mengerahkan seluruh tenaganya.
Namun yang keluar justru suara yang sangat berbeda.
"GHRRAAAAHHH!"
Suara berat dan kasar khas raksasa Alengka menggema di sepanjang pantai.
Dalam sekejap, suasana menjadi kacau.
Semua pasukan kera melompat mundur.
"Itu suara raksasa!"
"Penyusup!"
"Dia bukan bangsa kera!"
Rahasia yang selama ini disembunyikan Janggisrana akhirnya terbongkar.
Bulu-bulu palsu yang menutupi tubuhnya mulai rontok satu per satu. Wajah aslinya perlahan terlihat jelas di hadapan semua orang.
"Janggisrana!" teriak Gunawan.
Pasukan kera segera bergerak mengepungnya dari segala arah. Tidak ada lagi jalan untuk melarikan diri.
Sugriwa menghela napas panjang.
"Ternyata kau benar."
Gunawan tetap menatap tajam ke arah mata-mata Alengka itu.
"Musuh yang paling berbahaya bukanlah mereka yang datang membawa senjata. Musuh yang paling berbahaya adalah mereka yang datang membawa kebohongan."
Janggisrana tidak mampu membantah. Ia akhirnya ditangkap dan dibawa menghadap Prabu Rama Wijaya.
Tak lama kemudian, ia telah berdiri sebagai tawanan di hadapan pemimpin pasukan Bharata itu.
Suasana perkemahan menjadi hening.
Hanoman segera melangkah maju.
"Gusti, izinkan hamba menghukumnya."
Sugriwa pun ikut menyampaikan pendapatnya.
"Ia telah menghasut pasukan dan berusaha menghambat pembangunan tambak. Kesalahannya tidak ringan."
Banyak pasukan kera mengangguk setuju. Mereka menunggu keputusan Rama dengan penuh harap.
Namun Rama Wijaya justru menggeleng pelan.
"Tidak."
Satu kata itu membuat semua orang terkejut.
Hanoman menatap heran.
Sugriwa mengernyitkan dahi.
Bahkan Janggisrana sendiri tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Untuk sesaat, ia bertanya-tanya apakah dirinya salah mendengar. Tetapi wajah Rama tetap tenang. Dan dari sorot matanya, tampak bahwa keputusan itu telah dipikirkannya dengan matang.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani