Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Cerpen Wayang Janggisrana Bagian 5 Habis, saat Rahwana Membunuh Utusannya Sendiri

Ki Damar • Sabtu, 20 Juni 2026 | 19:29 WIB
Ilustrasi Alengka sebagai salah satu tempat ngeri dan penuh misteri dalam cerita wayang.
Ilustrasi Alengka sebagai salah satu tempat ngeri dan penuh misteri dalam cerita wayang.

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

"Setia?"

"Hamba tidak berkhianat!"

"Tetapi kau pulang membawa pemberian musuh."

"Gusti, hamba hanya menjalankan tugas..."

"Cukup!"

Rahwana turun dari singgasananya. Langkahnya perlahan, namun setiap hentakannya dipenuhi kemarahan yang sulit dibendung.

"Rama telah menghina Alengka."

"Tidak, Gusti!"

"Dan kau menjadi pembawa penghinaan itu."

Janggisrana bersujud semakin dalam.

"Ampun, Gusti!"

Namun Rahwana sudah tidak lagi mampu mengendalikan amarahnya. Matanya telah tertutup oleh emosi yang membara.

Dengan gerakan cepat, ia mencabut pedangnya.

Pedang itu menembus dada Janggisrana.

Mata sang prajurit membelalak. Waktu seakan berhenti di detik itu juga. Darah mengalir deras membasahi lantai istana yang megah, dan tubuhnya perlahan roboh tanpa sempat mengucapkan satu kata terakhir.

Rahwana menarik kembali pedangnya dengan kasar. Napasnya tersengal, namun amarah di dalam dirinya belum juga reda.

Ia kemudian melemparkan keris pemberian Rama ke lantai istana.

Emas yang dibawa Janggisrana ikut ditendangnya hingga berserakan ke segala arah, berkilau di tengah ketegangan yang menyelimuti ruangan.

"Tidak seorang pun boleh mempermalukan Dasamuka!" teriaknya.

Baca Juga: Bursa Transfer Juventus: Jonathan David Menolak Dijual, Rencana Beli Striker Baru Kian Rumit

Suara itu menggema di seluruh sudut istana, membuat para pengawal menunduk dalam diam. Tidak ada yang berani bersuara.

Namun di balik amarah itu, ada sesuatu yang lebih dalam yang tidak disadari Rahwana sendiri.

Bukan sekadar kesombongan, melainkan ketakutan.

Untuk pertama kalinya, ia mulai menyadari bahwa musuh yang sedang ia hadapi bukan hanya kuat dalam peperangan, tetapi juga unggul dalam kebijaksanaan dan kemuliaan hati.

Sementara itu, di luar istana, mayat Janggisrana telah diangkut pergi tanpa kehormatan terakhir.

Di kejauhan, pembangunan tambak menuju Alengka terus berlangsung tanpa hambatan. Batu demi batu tersusun semakin panjang, mendekatkan takdir yang belum sepenuhnya disadari siapa pun di Alengka.

Dan tanpa disadari Rahwana, kematian Janggisrana bukanlah akhir dari sebuah kisah.

Melainkan sebuah pertanda.

Pertanda bahwa kehancuran Alengka telah mulai bergerak, perlahan namun pasti, menuju puncaknya.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#cerpen wayang #Rahwana #Rama #Janggisrana #Cerita Wayang