Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Cerpen Abimanyu dan Wahyu Widayat Bagian 1: Takdir Besar Sang Putra Arjuna

Ki Damar • Senin, 22 Juni 2026 | 15:33 WIB
Ilustrasi kelahiran Abimanyu, sang putra Arjuna (AI GENERATED/RADAR MADIUN)
Ilustrasi kelahiran Abimanyu, sang putra Arjuna (AI GENERATED/RADAR MADIUN)

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

Angin pegunungan berembus lembut menyapu lereng-lereng sunyi ketika Werkudara menuruni tempat pertapaannya.

Wajah kesatria Pandawa itu tampak berseri-seri, sementara dadanya dipenuhi rasa syukur dan kebahagiaan yang sulit disembunyikan.

Setelah menjalani laku tapa yang berat serta melewati berbagai ujian dari para dewa, akhirnya ia berhasil menerima Wahyu Widayat.

Itu merupakan wahyu agung yang dipercaya akan melahirkan keturunan kesatria besar, sosok yang kelak menjadi kebanggaan bangsa dan penegak kejayaan negeri. 

Sebelum meninggalkan tempat suci itu, seorang resi yang membimbingnya memberikan pesan yang harus diingat baik-baik. 

"Ingatlah, Werkudara."

"Hamba mendengarkan, Resi."

"Selama empat puluh hari ke depan, engkau tidak boleh menyentuh perempuan."

Werkudara menganggukkan kepala sebagai tanda mengerti.

Baca Juga: 10 Temuan BPK Jadi Catatan Pemkab Magetan, Dari Proyek hingga Pengelolaan Aset

"Baik, Resi."

"Satu hal lagi."

Werkudara menatap sang resi dengan penuh perhatian.

"Apakah itu?"

"Jangan melihat ataupun menggendong bayi yang belum berusia sepasar."

Kesatria bertubuh raksasa itu tampak sedikit heran mendengar pantangan yang terakhir.

"Mengapa demikian?"

Sang resi tersenyum tipis sebelum menjawab.

"Karena wahyu itu masih mencari tempat yang tepat untuk bersemayam. Apabila pantangan tersebut dilanggar, Wahyu Widayat dapat berpindah kepada orang lain."

Werkudara tertawa pelan. Baginya, larangan itu terdengar jauh lebih mudah dibandingkan ujian berat yang baru saja ia lalui.

Baca Juga: Cerpen Wayang Janggisrana Bagian 1, Mata-Mata Alengka Menyusup ke Pasukan Rama

"Hanya itu?"

Sang resi kembali tersenyum.

"Sering kali kesulitan terbesar manusia bukan terletak pada kemampuannya menjalani ujian yang besar, melainkan pada kesanggupannya menahan diri terhadap perkara-perkara kecil yang dianggap sepele."

Mendengar petuah itu, Werkudara mengangguk hormat. Setelah berpamitan, ia segera melanjutkan perjalanan pulang menuju Amarta dengan hati yang ringan dan penuh harapan.

Di tengah perjalanan, ketika langkahnya semakin mendekati wilayah kerajaan, ia melihat dua orang kesatria muda berlari tergesa-gesa dari arah berlawanan.

Keduanya tidak lain adalah Raden Samba dan Gatutkaca. "Paman!" teriak Samba begitu melihat Werkudara.

Werkudara tersenyum lebar menyambut mereka. "Gatutkaca, Samba, mengapa kalian tampak terburu-buru seperti itu?"

Samba segera menjawab dengan wajah yang dipenuhi kegembiraan. (*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#Lakon wayang #cerpen #abimanyu #wayang