Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Cerpen Abimanyu dan Wahyu Widayat Bagian 2: Cahaya yang Meninggalkan Werkudara

Ki Damar • Senin, 22 Juni 2026 | 16:31 WIB
Ilustrasi kelahiran Abimanyu, sang putra Arjuna (AI GENERATED/RADAR MADIUN)
Ilustrasi kelahiran Abimanyu, sang putra Arjuna (AI GENERATED/RADAR MADIUN)

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

"Kami membawa kabar bahagia."

Werkudara yang sedang berjalan santai langsung menoleh kepada Samba dan Gatutkaca.

"Kabar apa?"

Samba tersenyum lebar sebelum menjawab.

"Dewi Subadra telah melahirkan seorang putra."

Mata Werkudara seketika membelalak. Wajahnya yang semula tenang berubah penuh kegembiraan.

"Benarkah?"

"Benar."

"Anak Arjuna?"

Baca Juga: Cerpen Wayang Sadewa Krida Bagian 1, Bencana Amarta dan Rahasia Kalimasada

"Ya."

Gatutkaca tertawa kecil melihat reaksi pamannya yang begitu antusias.

"Kanjeng Rama sekarang mempunyai keponakan baru."

Mendengar kabar tersebut, hati Werkudara langsung dipenuhi kebahagiaan.

Meskipun selama ini ia dikenal sebagai kesatria perkasa yang ditakuti lawan di medan perang, di lingkungan keluarga ia sosok penyayang dan selalu menaruh perhatian besar kepada saudara-saudaranya.

"Wah, kalau begitu aku harus segera melihatnya."

Tiba-tiba Gatutkaca teringat sesuatu yang penting.

"Tunggu, Rama."

Werkudara menghentikan langkahnya dan menatap putranya.

"Ada apa?"

"Bukankah Kanjeng Rama Dewaji baru saja menerima Wahyu Widayat?"

Werkudara menganggukkan kepala.

"Benar."

"Lalu bukankah ada pantangan yang harus dijaga?"

Pertanyaan itu membuat Samba ikut terlihat cemas. Ia teringat pesan sang resi bahwa wahyu tersebut belum sepenuhnya menetap dan masih bisa berpindah apabila syarat-syaratnya dilanggar.

Namun kebahagiaan yang sedang memenuhi hati Werkudara membuatnya tidak terlalu memikirkan peringatan tersebut.

"Ah, aku hanya ingin melihat bayi saudaraku. Tidak akan terjadi apa-apa."

"Paman..." ujar Samba dengan nada khawatir.

Namun Werkudara tetap tidak menghiraukannya.

Tanpa berpikir panjang, ia justru mempercepat langkah menuju Dwarawati dengan semangat yang menggebu-gebu, seolah tidak sabar untuk segera bertemu dengan keponakan barunya.

Baca Juga: Punya Darah Depok, Dean Zandbergen Buka Suara soal Proses Naturalisasi Timnas Indonesia

Sementara itu, suasana di Istana Dwarawati sedang dipenuhi kegembiraan. Para kerabat dan bangsawan silih berganti datang untuk menyampaikan ucapan selamat atas kelahiran putra Arjuna dan Dewi Subadra.

Prabu Kresna tampak tersenyum bahagia menyambut para tamu yang berdatangan. 

Tidak jauh darinya, Arjuna duduk mendampingi Dewi Subadra yang sedang menggendong seorang bayi mungil dengan wajah yang begitu menawan.

Tiba-tiba terdengar suara langkah yang sangat dikenali oleh seluruh keluarga Pandawa.

"Hahaha! Di mana keponakanku?"

Werkudara memasuki ruangan dengan langkah lebar dan suara yang menggelegar.

Arjuna tersenyum melihat kedatangan kakaknya.

"Kakang datang juga rupanya."

"Tentu saja. Sekarang tunjukkan padaku, di mana bayinya?"

Dewi Subadra tersenyum lembut lalu menyerahkan bayi tersebut kepada Werkudara.

Dengan penuh kasih sayang, kesatria bertubuh besar itu langsung mengangkat sang bayi dan menggendongnya tinggi-tinggi di hadapan semua orang.

"Wah, tampan sekali anak ini!"

Bayi itu tertawa kecil seakan merasa senang berada dalam gendongan pamannya.

Namun pada saat yang bersamaan, sesuatu yang tidak terduga tiba-tiba terjadi.

Dari tubuh Werkudara muncul cahaya keemasan yang berkilauan sangat terang. Cahaya itu perlahan-lahan keluar dari dadanya dan melayang di udara, membuat seluruh ruangan seketika terdiam karena terkejut.

"Apa itu?" tanya Arjuna sambil berdiri dari tempat duduknya. (*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#Lakon wayang #cerpen #abimanyu #wayang