Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Cerpen Abimanyu dan Wahyu Widayat Bagian 3: Perselisihan yang Tak Terhindarkan

Ki Damar • Senin, 22 Juni 2026 | 17:39 WIB
Ilustrasi kelahiran Abimanyu, sang putra Arjuna (AI GENERATED/RADAR MADIUN)
Ilustrasi kelahiran Abimanyu, sang putra Arjuna (AI GENERATED/RADAR MADIUN)

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

Cahaya keemasan itu melayang perlahan di udara, seakan digerakkan oleh kekuatan yang tidak terlihat oleh mata manusia. 

Seluruh penghuni pendapa memandangnya tanpa berkedip, sementara suasana yang semula dipenuhi kegembiraan perlahan berubah menjadi tegang.

Dalam hitungan detik, cahaya tersebut bergerak mendekati bayi yang berada di dalam gendongan Werkudara, lalu masuk ke dalam tubuhnya.

Sesaat kemudian, tubuh bayi itu memancarkan sinar terang yang memenuhi ruangan sebelum akhirnya meredup kembali.

Werkudara membeku.

Wajah kesatria perkasa itu mendadak pucat. Sorot matanya menunjukkan keterkejutan yang bercampur penyesalan.

"Tidak..."

Suara itu keluar lirih dari bibirnya.

"Tidak... aku telah melanggar pantangan."

Saat itulah ia teringat kembali pesan sang resi yang telah memperingatkannya agar tidak melihat ataupun menggendong bayi yang belum berusia sepasar.

Baca Juga: Casio Edifice ECB-40NP-1A, Jam Tangan Motorsport Terinspirasi Night Drive dengan Desain Suspensi Mobil Formula

Larangan yang semula dianggap sepele ternyata menjadi penyebab berpindahnya wahyu yang telah diperolehnya dengan susah payah.

Prabu Kresna menghela napas panjang.

"Wahyu Widayat telah berpindah."

Ucapan itu membuat seluruh pendapa tenggelam dalam kesunyian. Tidak ada seorang pun yang berani berbicara.

Masing-masing hanya saling berpandangan, seolah masih berusaha menerima kenyataan yang baru saja terjadi.

Beberapa saat kemudian, Werkudara duduk termenung. Pandangannya tidak pernah lepas dari bayi yang kini berada dalam pelukan Dewi Subadra.

Di dalam hatinya berkecamuk perasaan yang sulit dijelaskan.

Ia merasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga, tetapi pada saat yang sama juga ikut bahagia melihat wahyu itu bersemayam pada darah daging keluarganya sendiri.

Arjuna perlahan mendekatinya.

"Kakang..."

Werkudara mengangkat wajahnya.

"Janaka."

"Aku turut prihatin atas apa yang terjadi."

Senyum pahit muncul di wajah Werkudara.

"Ini memang kesalahanku sendiri. Aku telah diingatkan, tetapi aku mengabaikannya."

Setelah berkata demikian, pandangannya kembali tertuju kepada bayi itu. Entah mengapa, semakin lama ia melihatnya, semakin kuat perasaan bahwa anak tersebut kini memiliki hubungan khusus dengannya.

Beberapa saat kemudian ia berbicara dengan suara pelan.

"Janaka."

"Ya?"

"Biarkan anak itu menjadi anakku."

Arjuna tertegun.

"Apa maksud Kakang?"

"Biarkan aku mengakuinya sebagai anakku."

Ucapan itu membuat seluruh pendapa kembali hening.

Baca Juga: SPMB Kota Madiun 2026, Jalur Golden Ticket SMP Sisakan 28 Kursi Kosong

Dewi Subadra menatap suaminya dengan penuh keheranan, sementara para Pandawa lainnya saling berpandangan karena tidak menyangka permintaan tersebut akan keluar dari mulut Werkudara.

Arjuna mengernyitkan dahi.

"Kakang sedang bercanda?"

"Aku tidak bercanda. Aku sungguh-sungguh."

"Itu tidak mungkin."

Arjuna menjawab dengan tegas, membuat wajah Werkudara berubah serius.

"Mengapa tidak mungkin?"

"Karena dia adalah darah dagingku."

Werkudara perlahan berdiri dari tempat duduknya.

"Tetapi Wahyu Widayat yang menjadi milikku kini telah bersemayam di dalam dirinya."

Arjuna ikut berdiri.

"Itu tidak mengubah siapa ayah kandungnya."

Nada suara kedua kesatria itu mulai berubah. Masing-masing berusaha mempertahankan pendapatnya sendiri.

"Kau tidak mengerti, Janaka."

"Justru Kakang yang tidak mengerti."

Tatapan keduanya saling bertemu dengan keras.

"Aku hanya meminta hak atas wahyu itu!" seru Werkudara.

"Dan aku mempertahankan hakku sebagai ayahnya!" balas Arjuna tanpa kalah keras.

Werkudara menghela napas panjang sebelum kembali berbicara.

"Bukankah selama ini kau selalu mengatakan bahwa keluarga lebih penting daripada dirimu sendiri?"

"Benar."

"Lalu mengapa begitu berat bagimu untuk menyerahkannya?"

Arjuna menatap kakaknya dengan mata yang mulai memerah oleh emosi.

"Karena dia anakku!"

Jawaban itu menggema di dalam pendapa dan membuat suasana semakin menegang.

Para Pandawa yang lain hanya bisa terdiam. Tidak seorang pun berani menyela perdebatan dua saudara yang selama ini dikenal sangat saling menyayangi.

Bahkan Prabu Kresna memilih mengamati dalam diam, menunggu hingga emosi keduanya mereda.

Sementara itu, Werkudara mengepalkan kedua tangannya.

"Aku tidak meminta hartamu, Janaka. Aku juga tidak meminta kerajaanmu. Aku hanya meminta anak yang kini telah menerima Wahyu Widayat dariku."

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#Lakon wayang #cerpen #abimanyu #wayang