Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Arjuna menggelengkan kepala dengan keras.
"Tidak!"
Penolakannya begitu tegas hingga membuat suasana pendapa semakin menegang. Werkudara yang sejak tadi berusaha menahan perasaannya mulai kehilangan kesabaran.
"Janaka!" gertaknya.
Namun Arjuna tetap bergeming.
"Tidak akan pernah."
Nada suaranya menunjukkan bahwa ia tidak berniat mengubah keputusan sedikit pun.
Mata Werkudara mulai memerah. Kekecewaan, kesedihan, dan kemarahan bercampur menjadi satu di dalam dadanya.
"Jadi itu keputusanmu?"
"Ya."
Jawaban singkat itu terdengar seperti palu yang mengetuk akhir perdebatan mereka.
Namun tepat pada saat itulah sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Bayi yang sejak tadi berada dalam gendongan Dewi Subadra tiba-tiba menangis.
Awalnya hanya tangisan pelan seperti rengekan biasa.
Akan tetapi, dalam beberapa saat suara itu berubah semakin keras dan semakin nyaring, seolah ada kegelisahan besar yang tidak mampu diungkapkan oleh seorang bayi.
"Aaaaaaa...!"
Dewi Subadra langsung panik.
"Anakku!"
Ia segera menggendong dan menimangnya dengan penuh kasih sayang, berusaha menenangkan putranya. Namun tangisan itu sama sekali tidak mereda.
Baca Juga: Cerpen Wayang Janggisrana Bagian 1, Mata-Mata Alengka Menyusup ke Pasukan Rama
Arjuna ikut mencoba menenangkan sang bayi, tetapi usahanya juga tidak membuahkan hasil.
Para dayang yang berada di sekitar pendapa segera berdatangan untuk membantu, namun tidak seorang pun mampu menghentikan tangisan tersebut.
Semakin lama, suara tangisan itu justru terdengar semakin memilukan.
Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat dan malam mulai menyelimuti Dwarawati. Lampu-lampu istana telah dinyalakan, tetapi bayi itu masih terus menangis tanpa henti.
Kegelisahan mulai menyelimuti seluruh penghuni istana.
Melihat keadaan yang tidak biasa itu, Prabu Kresna akhirnya maju mendekat. Dengan ketenangan yang selalu menyertai dirinya, ia memandang bayi tersebut menggunakan mata batinnya.
Beberapa saat kemudian, ia menghela napas panjang.
"Janaka."
Arjuna segera menoleh.
"Ada apa, Kakang Kresna?"
"Kau telah melakukan kesalahan."
Arjuna terkejut mendengar ucapan tersebut.
"Kesalahan?"
Ia memandang Kresna dengan wajah penuh kebingungan.
"Mengapa Kakang berkata demikian?"
Kresna menatap adiknya dengan penuh kebijaksanaan.
"Karena engkau telah menolak ketulusan kakangmu sendiri."
Mendengar jawaban itu, Arjuna terdiam.
Sementara itu, tangisan bayi masih terus terdengar memenuhi pendapa.
Kresna melanjutkan penjelasannya.
"Wahyu Widayat memasuki tubuh anak itu melalui Werkudara. Peristiwa itu bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari kehendak yang telah digariskan oleh Yang Mahakuasa."
"Namun aku adalah ayah kandungnya."
Nada suara Arjuna terdengar lemah, seolah ia sedang berusaha mempertahankan keyakinannya sendiri.
"Kami semua mengetahui hal itu," jawab Kresna dengan tenang.
"Namun wahyu tidak mengenal hubungan darah. Wahyu hanya mengenal ketulusan hati."
Ucapan itu menghantam kesadaran Arjuna lebih keras daripada segala perdebatan yang sebelumnya terjadi.
Kresna kembali berbicara.
"Kakangmu tidak didorong keserakahan ataupun keinginan merebut hakmu. Ia hanya mengikuti panggilan hati yang lahir bersamaan dengan berpindahnya wahyu itu."
Pendapa kembali sunyi. Arjuna menundukkan kepala dalam-dalam.
Perlahan ia mengalihkan pandangannya ke arah Werkudara yang masih duduk menyendiri di sudut ruangan.
Baca Juga: Orang Tua Siswa Sekolah Rakyat di Madiun Dapat Bantuan Rumah dan Modal Usaha
Sejak kecil mereka telah melalui begitu banyak suka dan duka bersama, tetapi baru kali itu Arjuna melihat kesedihan yang begitu dalam di wajah kakaknya.
Itu bukan kesedihan seorang kesatria yang kehilangan kemenangan atau kehormatan.
Itu adalah kesedihan seorang ayah yang merasa kehilangan anaknya.
Perasaan bersalah mulai memenuhi hati Arjuna.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berjalan perlahan menghampiri Werkudara. Setiap langkahnya terasa berat karena ia menyadari bahwa emosinya telah membuat hati sang kakak terluka.
Sesampainya di hadapan Werkudara, Arjuna berlutut.
"Kakang..."
Werkudara menoleh perlahan.
"Maafkan aku."
Kesatria bertubuh besar itu tidak segera menjawab.
Arjuna kembali menundukkan kepala.
"Aku terlalu memikirkan diriku sendiri dan tidak mencoba memahami perasaan Kakang."
Suasana kembali hening untuk beberapa saat.
Kemudian Arjuna mengangkat wajahnya. "Bila Kakang berkenan..."
Dengan kedua tangannya, ia mengambil bayi itu dari pelukan Dewi Subadra. (*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani