Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Matahari baru saja terbit di ufuk timur ketika kegelisahan menyelimuti Istana Hastina. Hari yang seharusnya menjadi hari bahagia berubah menjadi hari penuh kecemasan.
Para Pandawa sibuk mencari satu orang yang paling penting dalam penobatan raja baru. Parikesit menghilang.
Puntadewa mondar mandir di pendapa kerajaan.
"Ke mana cucuku pergi? Besok seluruh negeri menunggu penobatannya."
Bima menggeram.
"Aku sudah mengirim prajurit ke segala penjuru. Tidak ada yang menemukan jejaknya."
Nakula dan Sadewa saling berpandangan. Mereka pun tidak mengerti mengapa cucu Arjuna itu meninggalkan istana pada saat yang sangat penting.
Arjuna hanya diam memandang kejauhan.
Di tengah kekacauan itu, rupanya ada pihak yang diam diam bersukacita.
Baca Juga: Hubungan AS-Israel Retak, Pemerintahan Donald Trump Disebut Siapkan Siasat Gusur Netanyahu
Di sebuah padepokan tua yang tersembunyi, Kertiwindu, putra Sengkuni, mengumpulkan beberapa keturunan Kurawa yang masih menyimpan dendam kepada Pandawa.
Di hadapannya duduk Dahyang Swela, putra Aswatama sekaligus cucu Resi Durna, serta Dursala, putra Dursasana.
Kertiwindu tersenyum tipis. "Kalian mendengar kabar dari Hastina?"
Dursala mengangguk. "Parikesit menghilang."
"Itulah kesempatan kita."
Dahyang Swela menatap tajam. "Kesempatan apa?"
Kertiwindu berdiri. "Kesempatan untuk merebut kembali takhta yang dirampas Pandawa."
Dursala mengepalkan tangan.
"Benar. Sejak kecil aku mendengar bagaimana ayahku gugur dalam Bharatayuda. Hastina seharusnya milik Kurawa."
Kertiwindu tersenyum puas melihat api kebencian mulai menyala. "Lihatlah sejarah. Duryudana lahir di Hastina."
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani