Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
"Dursasana lahir di Hastina."
"Kurawa memerintah Hastina secara turun temurun."
"Lalu Pandawa datang dan mengambil semuanya."
Dahyang Swela mulai terpengaruh. "Jadi menurutmu kami harus menuntut hak?"
"Bukan menuntut."
Kertiwindu tersenyum licik. "Mengambil kembali apa yang memang milik kita."
Dursala berdiri. "Aku setuju."
"Kita berangkat ke Hastina!"
Baca Juga: Hubungan AS-Israel Retak, Pemerintahan Donald Trump Disebut Siapkan Siasat Gusur Netanyahu
Kertiwindu menepuk bahunya.
"Itulah darah Kurawa yang sesungguhnya."
Keesokan harinya mereka datang ke Hastina bersama sejumlah pengikut. Suasana pendapa menjadi tegang. Dursala maju ke depan.
"Aku menuntut takhta Hastina!"
Para pejabat terkejut. Puntadewa menatap tenang. "Atas dasar apa?"
Dursala menjawab lantang. "Karena ayahku, Dursasana, adalah putra Raja Destarata!"
Dahyang Swela ikut melangkah.
"Dan aku cucu Resi Durna yang selama hidupnya mengabdi kepada Hastina!"
Bima langsung berdiri. "Kurang ajar!"
Namun, sebelum kemarahan Bima meledak, Prabu Kresna mengangkat tangan.
Baca Juga: Ryma Affany, PA Nasi Pecel 99 yang Aktif Lestarikan Batik dan Kebaya di Madiun
"Kalian datang membawa tuntutan atau membawa dendam?"
Sri Kresna menatap keduanya. Dursala terdiam.
Kresna melanjutkan, "Takhta bukan warisan kebencian. Takhta adalah amanah rakyat."
Kertiwindu yang berdiri di belakang mulai gugup. Kresna menoleh kepadanya.
"Dan engkau, putra Sengkuni."
Kertiwindu terkejut.
"Aku tahu siapa yang menghasut mereka."
Wajah Kertiwindu pucat. Kresna tersenyum. "Orang yang gagal memimpin dirinya sendiri tidak pantas memimpin sebuah negeri."
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani