Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Akhirnya, semua tipu daya terbongkar. Atas keputusan para tetua Hastina, Kertiwindu, Dursala, dan Dahyang Swela diamankan agar tidak memicu kekacauan yang lebih besar.
Sementara itu, jauh di sebuah gunung yang sunyi, Parikesit sedang bertapa.
Ia duduk di bawah pohon besar dengan mata terpejam. Hatinya dipenuhi keraguan.
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki mendekat.
Parikesit membuka mata. "Kakek Arjuna."
Arjuna tersenyum lembut.
"Jadi, di sini kau berada."
Parikesit menunduk. "Aku tidak bersembunyi."
"Lalu?"
Baca Juga: UNESA Kampus 5 Magetan Perluas Kolaborasi Lintas Sektor, Gandeng Jawa Pos Radar Madiun
"Aku mencari jawaban."
Arjuna duduk di samping cucunya. "Jawaban apa?"
Parikesit memandang lembah di bawah gunung.
"Aku takut menjadi raja."
Arjuna terdiam.
"Aku belum pantas. Hastina terlalu besar. Rakyat terlalu banyak. Bagaimana jika aku gagal?"
Arjuna tersenyum. "Semua pemimpin besar pernah bertanya hal yang sama."
Parikesit menoleh. "Bukankah seorang raja harus yakin?"
"Justru orang yang tidak pernah ragu sering menjadi pemimpin yang berbahaya."
Parikesit terdiam mendengarkan.
Arjuna melanjutkan, "Raja bukanlah orang yang merasa paling pintar. Raja adalah orang yang mau terus belajar."
"Raja bukanlah orang yang selalu benar. Raja adalah orang yang berani memperbaiki kesalahan."
Parikesit mulai memperhatikan. "Tapi aku masih muda."
Arjuna mengangguk.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani