Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
"Benar. Karena itu, dengarkan rakyat. Dengarkan para tetua. Dengarkan orang yang berani mengkritikmu."
Parikesit bertanya pelan. "Bagaimana cara menjadi pemimpin yang baik, Kek?"
Arjuna memandang langit.
"Jangan mencintai takhta."
Parikesit terkejut.
"Mengapa?"
"Karena orang yang mencintai takhta akan mempertahankannya demi dirinya sendiri."
"Lalu apa yang harus dicintai?"
Arjuna tersenyum.
Baca Juga: Cerpen Abimanyu dan Wahyu Widayat Bagian 1: Takdir Besar Sang Putra Arjuna
"Rakyatmu. Bila engkau mencintai rakyat, takhta hanyalah alat untuk berbuat baik."
Angin gunung berembus pelan. Parikesit merasakan beban dalam dadanya mulai berkurang.
Arjuna kembali berkata,
"Ingatlah, seorang raja tidak diukur dari kemewahan istananya, tetapi dari berapa banyak air mata rakyat yang berhasil ia hapus."
"Bukan dari berapa banyak orang yang tunduk kepadanya, tetapi dari berapa banyak orang yang merasa terlindungi olehnya."
Mata Parikesit mulai berkaca kaca.
"Aku mengerti sekarang, Kek."
Arjuna menepuk pundaknya.
"Negeri ini tidak membutuhkan raja yang sempurna. Hastina hanya membutuhkan pemimpin yang jujur dan mau bertanggung jawab."
Parikesit berdiri. Wajahnya kini berbeda. Keraguan telah berubah menjadi keyakinan.
Baca Juga: Ryma Affany, PA Nasi Pecel 99 yang Aktif Lestarikan Batik dan Kebaya di Madiun
"Aku akan pulang."
Arjuna tersenyum bangga.
"Itulah cucu Arjuna."
Beberapa hari kemudian, lonceng lonceng kerajaan berbunyi meriah. Seluruh rakyat Hastina berkumpul untuk menyaksikan penobatan Parikesit.
Ketika mahkota diletakkan di kepalanya, Parikesit teringat nasihat sang kakek. Bahwa takhta bukanlah lambang kemuliaan, melainkan beban pengabdian.
Di tengah gemuruh sorak rakyat Hastina, Puntadewa memandang cucunya dengan mata berkaca kaca.
Mahkota yang bertengger di kepala Parikesit, sikapnya yang tenang, serta sorot matanya yang teduh membuat hati raja tua itu bergetar.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani