Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Cerpen Wayang Parikesit Mencari Diri 5 Habis: Akhir Perjalanan Sang Pewaris Kebijaksanaan Pandu

Ki Damar • Selasa, 23 Juni 2026 | 19:51 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Prabu Parikesit (RADAR MADIUN)
Ilustrasi tokoh wayang Prabu Parikesit. (RADAR MADIUN)

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

Sejenak, Puntadewa merasa waktu berputar kembali ke masa lampau.

Sosok yang berdiri di hadapannya bukan lagi sekadar Parikesit, melainkan bayangan Kanjeng Rama Prabu Pandu yang dahulu memimpin dengan penuh kebijaksanaan dan dicintai seluruh rakyat Hastina.

"Rama..." bisik Puntadewa lirih, seolah berbicara kepada ayahandanya yang telah lama mangkat.

Air matanya jatuh tanpa mampu ditahan.

Arjuna yang berdiri di sampingnya menoleh heran.

"Kakang, mengapa menangis?" tanyanya pelan.

Puntadewa tersenyum sambil menatap Parikesit yang duduk gagah di singgasana.

"Aku tidak menangis karena sedih, Janaka. Aku bahagia. Lihatlah cucumu itu. Cara ia berdiri, tatapan matanya, bahkan kewibawaannya. Seakan akan Kanjeng Rama Prabu Pandu hadir kembali di tengah tengah kita."

"Hari ini aku merasa tenang menyerahkan Hastina kepada generasi penerus. Sebab darah Pandu masih mengalir dan tetap menjaga negeri ini."

Baca Juga: ASN Pacitan Diminta Nobar Piala Dunia 2026, Wajib Kirim Foto Bukti ke Inspektorat

Dan sejak hari itu, Parikesit memerintah Hastina bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk rakyat yang mempercayakan harapan mereka kepada pemimpin yang akhirnya menemukan keberanian di dalam dirinya sendiri.

Di luar pendapa, seorang rakyat tua yang sejak muda menyaksikan masa kejayaan Pandu, penderitaan Bharatayuda, hingga pemerintahan Pandawa, menatap singgasana dengan mata berkaca kaca.

"Syukurlah para dewa masih mengasihi Hastina," ucapnya lirih.

Seorang pemuda di sampingnya mengangguk haru.

"Pandawa telah menunaikan darmanya. Mereka tidak hanya memenangkan perang, tetapi juga berhasil menyiapkan penerus yang bijaksana."

Rakyat tua itu tersenyum sambil memandang Parikesit yang duduk di singgasana.

"Kini aku mengerti mengapa para Pandawa rela berkorban sepanjang hidup mereka. Bukan untuk kemuliaan diri sendiri, melainkan agar negeri ini selalu memiliki pemimpin yang cakap dan mencintai rakyatnya."

"Selama masih ada pemimpin seperti Parikesit, Hastina akan tetap berdiri tegak, dan pengorbanan para leluhur tidak akan pernah sia sia."

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta 

Editor : Mizan Ahsani
#cerpen #Pandawa #parikesit #wayang #Pandu