Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
"Aku kalah..." ucap Narayana dengan napas terengah-engah.
Anjali mendekatinya.
"Kau kalah karena bertarung dengan kemarahan."
"Lalu engkau?" tanya Narayana.
"Aku bertarung dengan ketenangan."
Tiba-tiba, tubuh Anjali memancarkan cahaya. Sosoknya perlahan berubah menjadi seorang brahmana tua yang berwibawa.
Narayana terkejut.
"Siapa sebenarnya engkau?"
"Aku Begawan Padmanaba."
Mendengar nama itu, Narayana segera bersujud penuh hormat.
"Guru..."
Begawan Padmanaba kemudian duduk di bawah sebatang pohon besar. Narayana ikut duduk di hadapannya dengan kepala tertunduk.
"Anakku," ujar sang begawan dengan lembut.
"Ya, Guru."
"Kau memiliki hati yang baik."
Narayana mengangkat wajahnya.
"Itulah sebabnya aku tidak ingin membiarkanmu tersesat," lanjut Begawan Padmanaba.
Narayana menyimak setiap kata dengan sungguh-sungguh.
"Tetapi hati yang baik saja tidak cukup."
"Mengapa, Guru?"
"Karena orang yang berniat baik pun bisa menjadi sumber petaka apabila kehilangan kebijaksanaan."
Narayana terdiam. Kata-kata gurunya terasa menghunjam ke dalam hatinya.
"Apakah selama ini aku salah?"
Begawan Padmanaba tersenyum bijaksana.
"Kau salah dalam cara, bukan dalam tujuan."
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani