Cerpen Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Perang Bharatayuda telah berakhir. Kurawa runtuh, dan Hastina jatuh ke tangan Pandawa.
Di antara para kesatria Kurawa yang berhasil melarikan diri, hanya tersisa beberapa orang yang masih menyimpan dendam mendalam.
Salah satunya adalah Kartamarma, adik ipar Banuwati sekaligus saudara seperjuangan Duryudana. Bersama Aswatama, ia hidup dalam persembunyian.
Malam demi malam, mereka menyusun rencana pembalasan.
"Kita tidak boleh menyerah," kata Aswatama sambil menatap peta Hastina.
"Kita telah kehilangan segalanya," jawab Kartamarma.
"Justru karena itu kita harus membalas."
Mereka pun menggali terowongan rahasia menuju Istana Hastina. Harapan mereka hanya satu, yakni dapat menyusup ke dalam istana dan menghancurkan Pandawa dari dalam.
Pada suatu malam, Kartamarma berjalan sendirian menyusuri lorong bawah tanah yang telah berhasil menembus bagian dalam istana.
Saat melewati sebuah dinding tipis, ia melihat cahaya temaram memancar dari balik sebuah celah.
Rasa penasaran membuatnya mengintip.
Seketika napasnya tertahan.
Di dalam ruangan itu duduk seorang wanita berpakaian putih. Wajahnya tertunduk, matanya sembab, tetapi kecantikannya tetap memancar di balik kesedihan yang mendalam.
Wanita itu adalah Banuwati, janda Duryudana sekaligus permaisuri terakhir Kurawa.
Kartamarma terdiam. Selama bertahun-tahun, ia memendam kekaguman terhadap perempuan itu. Namun, selama Duryudana masih hidup, perasaan tersebut tak pernah berani ia ungkapkan.
Kini Duryudana telah tiada, dan Banuwati hidup seorang diri.
Perasaan yang selama ini terkubur perlahan kembali membakar pikirannya. Dengan langkah pelan, ia membuka pintu ruangan.
Banuwati terkejut.
"Kartamarma?"
Ia segera berdiri. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Kartamarma menutup pintu di belakangnya.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani