Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Cerpen Banuwati dan Dosa Terakhir 2: Pengakuan yang Mengusik Kesetiaan

Ki Damar • Jumat, 3 Juli 2026 | 17:09 WIB
Ilustrasi Banuwati bersama seorang pria. (RADAR MADIUN)
Ilustrasi Banuwati bersama seorang pria. (RADAR MADIUN)

Cerpen Lakon Wayang oleh Ki Damar*

"Aku ingin menemuimu."

"Untuk apa?"

"Sudah lama aku ingin berbicara."

Banuwati memandangnya dengan heran.

"Aku tidak ingin berbicara dengan siapa pun."

"Aku berbeda."

Banuwati mulai merasakan sesuatu yang tidak biasa dari tatapan pria itu. Tatapan yang membuatnya merasa tidak nyaman.

"Katakan maksudmu, lalu pergilah."

Kartamarma melangkah mendekat.

Baca Juga: Hampir 8.000 WNI Lepas Kewarganegaraan dalam Lima Tahun, Ini Faktor yang Paling Dominan

"Aku selalu mengagumimu."

Banuwati langsung menegang.

"Jangan lanjutkan."

"Aku mencintaimu."

Tatapan Kartamarma tak lepas dari keindahan tubuh Banuwati. Ia berkali-kali menelan ludah setiap memandang kulit kuning bersih perempuan itu.

Banuwati memejamkan mata.

"Kau sadar apa yang kau katakan?"

"Aku sangat sadar."

"Kau adik dari suamiku."

"Suamimu telah mati."

Jawaban itu membuat Banuwati marah. Wajahnya memerah karena menahan amarah.

"Jangan pernah berkata seperti itu lagi!"

Kartamarma tidak bergeming.

"Mengapa? Aku masih menghormatinya, tetapi Duryudana sudah tidak ada."

"Tetapi kehormatannya masih ada!"

Banuwati menatap Kartamarma dengan tajam.

"Dan selama aku hidup, kehormatan itu akan kujaga."

Kartamarma mulai kehilangan kesabaran.

"Apa yang masih kau pertahankan?" tanyanya dengan geram.

"Kesetiaan," jawab mantan permaisuri Astina itu dengan tegas.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#banuwati #cerpen #wayang #Duryudana