Cerpen Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Sri Kresna memejamkan mata.
"Ampunan Tuhan selalu terbuka. Namun, akibat dari setiap perbuatan tetap harus kau jalani."
Sejak hari itu, Aswatama hidup mengembara. Ia berpindah dari satu desa ke desa lainnya. Namun, setiap kali penduduk melihat keadaannya, mereka segera menutup pintu rumah.
"Pergi!"
"Jangan dekati rumah kami!"
"Anak-anak akan ketakutan!"
Di tempat lain, ia meminta seteguk air.
Namun, seorang ibu justru mengusirnya. "Jangan mendekat!"
Baca Juga: Tahan Saldo UMKM hingga Miliaran Rupiah, Komisi VII DPR RI Bakal Panggil Paksa TikTok Shop
"Baumu membuat kami sesak!"
Aswatama kembali melanjutkan perjalanannya.
Tak seorang pun bersedia menyentuhnya.
Tak seorang pun rela menatap wajahnya.
Ia benar-benar telah menjadi manusia buangan.
Bertahun-tahun kemudian, tubuhnya semakin lemah. Ia kembali ke medan Bharatayuda yang kini telah ditumbuhi ilalang.
Di tempat itulah ia berlutut.
"Ayah..."
"Kartamarma..."
"Duryudana..."
"Aku gagal..."
Air matanya jatuh membasahi tanah. Untuk pertama kalinya, Aswatama menyadari bahwa dendam tidak pernah mampu menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani