Cerpen Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Anak panah suci itu menghantam leher Aswatama. Ia terjatuh keras di lantai kamar bayi Parikesit. Darah mengalir membasahi pakaiannya, tetapi panah itu tidak merenggut nyawanya.
Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Aswatama merangkak menuju jendela.
"Aku... belum boleh mati..." gumamnya lirih.
Ia memaksakan diri melompat ke luar istana, lalu menghilang dalam gelapnya malam.
Tak lama kemudian, Arjuna, Werkudara, Puntadewa, Nakula, Sadewa, dan Sri Kresna memasuki kamar Parikesit. Tangisan bayi itu perlahan mulai reda.
Arjuna memeluk cucunya dengan erat.
"Kakang Prabu, Aswatama berhasil melarikan diri."
Sri Kresna menatap bekas darah yang tertinggal di lantai.
Baca Juga: Cristiano Ronaldo Akan Pensiun dari Timnas Portugal usai Piala Dunia 2026
"Orang yang dikuasai dendam dapat lari dari manusia."
"Tetapi tidak akan pernah dapat lari dari akibat perbuatannya."
Beberapa hari kemudian, di sebuah hutan tandus, Aswatama berjalan tertatih-tatih. Luka di lehernya tak kunjung sembuh. Tubuhnya semakin melemah.
Namun, dendam masih membakar dadanya.
"Aku belum kalah. Aku akan kembali..."
Tiba-tiba, dari kejauhan tampak Sri Kresna bersama para Pandawa berjalan menghampirinya.
Aswatama tersenyum sinis. "Kalian datang untuk membunuhku?"
Sri Kresna menggeleng pelan. "Tidak. Aku datang untuk mengakhiri kebencianmu."
Aswatama tertawa pahit. "Kebencian tidak akan pernah berakhir selama Pandawa masih hidup."
Werkudara melangkah maju satu langkah.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani