Cerpen Lakon Wayang oleh Ki Damar*
"Kakang Prabu, izinkan aku menghabisinya."
Sri Kresna mengangkat tangan, memberi isyarat agar Werkudara mundur.
"Tidak, yayi Werkudara. Ada hukuman yang lebih berat daripada kematian."
Semua terdiam.
Sri Kresna memandang Aswatama dengan sorot mata penuh wibawa.
"Aswatama, engkau adalah putra Begawan Durna. Seharusnya engkau menjadi pelindung ilmu dan kebajikan. Namun, engkau justru memilih menjadi hamba dendam."
Aswatama membalas dengan suara lantang.
"Ayahku mati karena tipu daya! Kurawa hancur! Sahabatku mati! Apakah aku tidak berhak membalas?"
Sri Kresna menjawab dengan tenang.
Baca Juga: Hampir 8.000 WNI Lepas Kewarganegaraan dalam Lima Tahun, Ini Faktor yang Paling Dominan
"Engkau berhak bersedih. Tetapi engkau tidak berhak menjadikan bayi yang tak berdosa sebagai sasaran dendammu."
Aswatama menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya, ia tidak mampu membantah.
Sri Kresna kemudian mengangkat tangan kanannya.
Angin berhenti berembus.
Pepohonan mendadak terdiam.
Suara Sri Kresna bergema memenuhi hutan.
"Aswatama... karena engkau hendak menghabisi kehidupan yang belum mengenal dosa, maka mulai hari ini engkau akan hidup sebagai manusia yang dijauhi semua orang. Segenap luka di tubuhmu tidak akan pernah sembuh. Bau busuk akan keluar dari tubuhmu. Tidak ada tabib yang mampu mengobatimu. Tidak ada kerajaan yang bersedia menerimamu. Tidak ada rumah yang sudi memberimu tempat berteduh. Engkau akan berjalan sendirian, ditemani penyesalan."
Seketika, luka di tubuh Aswatama menghitam.
Ia menjerit kesakitan. "Aaaaargh...!"
Kulitnya dipenuhi borok. Wajahnya berubah kusam. Bau busuk mulai menyelimuti seluruh tubuhnya.
Ia menangis. "Kresna... ampunilah aku..."
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani