Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Cerpen Wayang Kutukan Aswatama 5 Habis: Pelajaran dari Medan Perang Bharatayuda

Ki Damar • Sabtu, 4 Juli 2026 | 18:47 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Raden Aswatama versi Jogja (RADAR MADIUN)
Ilustrasi tokoh wayang Raden Aswatama versi Jogja (RADAR MADIUN)

Cerpen Lakon Wayang oleh Ki Damar*

Pandawa menundukkan kepala dengan haru.

Mereka meninggalkan tempat itu sambil membawa satu pelajaran besar, bahwa kemenangan sejati bukan hanya menaklukkan musuh, tetapi juga memutus mata rantai kebencian agar tidak diwariskan kepada generasi berikutnya.

Puntadewa memandang jasad Aswatama dengan wajah penuh iba.

"Kakang Prabu, beginikah akhir seorang putra Begawan Durna yang dahulu begitu disegani?" tanyanya lirih.

Sri Kresna mengangguk pelan.

"Yayi Prabu, ilmu yang tinggi tidak akan berarti tanpa kebijaksanaan. Orang yang gagal mengalahkan hawa nafsunya akan dikalahkan oleh perbuatannya sendiri."

Werkudara masih menggenggam gadanya erat.

"Hamba masih marah karena ia hendak membunuh Parikesit."

Sri Kresna menepuk bahunya sambil tersenyum.

Baca Juga: Korupsi Motor Listrik BGN Seret Sosok Kolonel TNI Inisial BU, Diduga Terlibat Markup Harga

"Yayi Werkudara, jangan biarkan kemenangan ternoda oleh dendam. Kesatria sejati bukan hanya pandai berperang, tetapi juga mampu memaafkan setelah peperangan usai."

Arjuna menggendong Parikesit yang telah tertidur pulas.

"Kakang Prabu, semoga cucuku kelak menjadi raja yang bijaksana."

Sri Kresna memandang bayi itu dengan penuh kasih.

"Didiklah ia agar mencintai rakyatnya. Mahkota bukan lambang kemuliaan, melainkan amanah untuk menjaga keadilan."

Angin sore berembus melewati medan Bharatayuda yang mulai ditumbuhi rerumputan. Sri Kresna memandang hamparan tanah itu lalu berkata,

"Lihatlah, alam telah melupakan peperangan. Manusia pun harus belajar menghentikan permusuhan. Jangan wariskan dendam kepada anak cucu, tetapi wariskan kebijaksanaan."

Pandawa serempak menyembah kepada Sri Kresna. Mereka kemudian kembali ke Astina sambil membawa Parikesit sebagai harapan baru bagi negeri.

Sejak saat itu, kisah Aswatama dikenang sebagai pelajaran bahwa dendam hanya melahirkan penderitaan, sedangkan kebijaksanaan akan melahirkan kedamaian.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#Bharatayuda #cerpen #Pandawa #aswatama #wayang