Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Antareja, Pengorbanan Demi Tegaknya Dharma 1: Kisah Tragis Putra Werkudara Menjelang Perang Baratayudha

Ki Damar • Senin, 6 Juli 2026 | 13:37 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Antareja. (RADAR MADIUN)
Ilustrasi tokoh wayang Antareja. (RADAR MADIUN)

Cerpen Wayang oleh Ki Damar*

Menjelang pecahnya Perang Baratayudha, seluruh kesatria Pandawa mulai mempersiapkan diri. Panji-panji dikibarkan, senjata diasah, sementara para senapati menyusun berbagai siasat perang.

Di tengah kesibukan itu, Raden Antareja, putra sulung Werkudara, datang menghadap Sri Kresna dengan hati yang berkobar. Ia ingin mengabdikan dirinya sebagai kesatria di medan Bharatayudha.

"Uwak Prabu," sembah Antareja sambil menangkupkan kedua tangan, "izinkan hamba berada di garis terdepan. Sejak kecil hamba ditempa menjadi seorang kesatria. Bila Bharatayudha adalah perang untuk menegakkan dharma, izinkan hamba mempersembahkan jiwa dan raga bagi Pandawa."

Sri Kresna memandang keponakannya dengan senyum tipis. Namun, di balik senyum itu tersimpan beban yang amat berat.

Malam harinya, Sri Kresna memasuki tapa semadi. Dalam keheningan batin, beliau memohon petunjuk kepada Hyang Wenang demi keselamatan jagad. Ketika membuka mata, wajah beliau tampak muram.

"Demikianlah kehendak jagad..." gumamnya lirih.

Semar yang berada di sampingnya segera bertanya,

"Kakang Prabu, mengapa Paduka tampak bersedih?"

Baca Juga: Dokter Ungkap Manfaat Lari untuk Anak, Baik bagi Jantung hingga Pertumbuhan

Sri Kresna menghela napas panjang. "Aku menerima sabda. Antareja tidak boleh mengikuti Bharatayudha."

Semar terkejut.

"Mengapa demikian?"

"Karena kesaktiannya akan mengguncang keseimbangan perang. Bila Antareja turun ke medan laga, kemenangan Pandawa bukan lagi lahir dari perjuangan, melainkan karena kesaktian seorang manusia."

Semar menundukkan kepala.

"Berarti..."

Sri Kresna memejamkan mata.

"Takdir menghendaki Antareja harus gugur sebelum perang dimulai."

Keesokan harinya, Sri Kresna memanggil Antareja. "Anakku Antareja."

"Hamba hadir, Uwak Prabu."

Sri Kresna menatap wajah keponakannya dengan penuh kasih.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#cerpen #Pandawa #antareja #Baratayudha #wayang