Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
"Ada sebuah tugas yang hanya dapat kau laksanakan."
Antareja tersenyum penuh semangat.
"Perintahkanlah, Uwak Prabu. Selama demi tegaknya dharma, hamba siap melaksanakannya."
Sri Kresna berkata perlahan,
"Kita harus mengalahkan musuh lamaku, Prabu Praswapati."
"Itu tugas yang ringan bagi hamba."
"Kau memiliki ajian yang tiada tanding. Siapa pun yang telapak kakinya kau jilati akan menemui ajal."
"Itulah anugerah Hyang Wenang kepada hamba."
Baca Juga: Mojtaba Khamenei Tak Hadir di Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, Ribuan Warga Padati Teheran
"Maka lakukanlah, Anakku Antareja."
Mereka berdua berjalan menuju sebuah hutan yang sunyi. Setelah tiba di sebuah tanah lapang, Sri Kresna berhenti, lalu mengangkat sebelah kakinya.
"Nah... inilah telapak kaki Prabu Praswapati."
Antareja melangkah mendekat. Namun, ia mendadak terdiam. Pandangannya tertuju pada telapak kaki yang ditunjukkan Sri Kresna. Perlahan, senyum tipis menghiasi wajahnya.
"Uwak Prabu..."
Sri Kresna tetap terdiam.
"Itu bukan telapak kaki Prabu Praswapati."
Suasana hutan seketika diliputi kesunyian.
"Itu... telapak kaki hamba sendiri."
Sri Kresna memejamkan mata. "Benar, Anakku Antareja."
Antareja menarik napas panjang.
"Apakah ini kehendak Hyang Wenang?"
"Iya."
"Apakah hamba harus gugur sebelum Bharatayudha dimulai?"
Sri Kresna mengangguk perlahan. "Demikianlah garis takdir yang harus kita hormati."
Antareja tersenyum damai.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani