Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
"Hamba memang sedih karena tidak dapat berjuang bersama Ayahanda. Namun, bila kematian hamba menjadi jalan keselamatan Pandawa, hamba menerimanya dengan ikhlas."
Air mata Sri Kresna mulai menggenang.
"Anakku Antareja, tidak semua kesatria dimuliakan karena gugur di medan perang. Ada pula yang dimuliakan karena rela mengorbankan dirinya demi tegaknya keseimbangan dunia."
Antareja menangkupkan kedua tangannya.
"Bila demikian, izinkan hamba menjalankan darma."
Perlahan, ia menjilat telapak kakinya sendiri. Seketika ajian yang dimilikinya bekerja. Tubuh Antareja bergetar hebat, sementara napasnya kian melemah.
Sebelum mengembuskan napas terakhir, ia tersenyum kepada Sri Kresna.
"Titip salam kepada Ayahanda... Katakan bahwa putranya gugur bukan karena kalah... tetapi karena menjalankan darma."
Sesaat kemudian, Antareja berpulang dengan wajah yang tenang.
Berita gugurnya Antareja membuat Werkudara berlari secepat angin. Begitu melihat putra sulungnya telah terbujur kaku, tubuhnya seketika lemas. Ia memeluk jasad Antareja erat-erat.
"Anakku... mengapa bukan Ayah yang menggantikanmu?"
Air mata Werkudara membasahi wajah putranya.
"Ayah ingin melihatmu menjadi senopati. Ayah ingin melihatmu mengangkat panji Pandawa di Bharatayudha. Mengapa justru engkau pergi lebih dahulu?"
Sri Kresna menghampiri, lalu meletakkan tangan di bahu Werkudara.
"Yayi Werkudara, jangan engkau mengira Anakku Antareja gugur dengan sia-sia."
Werkudara menatap Sri Kresna dengan mata sembab.
"Jliteng Kresna, Kakangku... hatiku hancur."
Sri Kresna menjawab dengan lembut,
"Tidak semua pengorbanan dilakukan di medan perang. Ada kesatria yang menyelamatkan negeri dengan mengangkat senjata, tetapi ada pula yang menyelamatkan negeri dengan mengorbankan dirinya."
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani