Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Werkudara masih terisak.
"Mengapa harus Antareja?"
Sri Kresna menjawab dengan penuh kebijaksanaan,
"Bila Antareja tetap hidup dan ikut berperang, keseimbangan Bharatayudha akan hilang. Dunia tidak akan belajar tentang perjuangan dan pengorbanan. Kemenangan Pandawa akan dianggap lahir dari kesaktian seorang kesatria, bukan karena tegaknya dharma."
Werkudara terdiam. Kata-kata Sri Kresna seolah menembus relung hatinya yang sedang diliputi duka.
Sri Kresna melanjutkan,
"Jangan ukur kemuliaan seseorang dari panjangnya usia, tetapi dari besarnya manfaat yang ia tinggalkan. Antareja memang tidak sempat mengangkat senjata di Bharatayudha, namun pengorbanannya telah menjadi kemenangan pertama bagi Pandawa."
Perlahan, Werkudara mengusap wajah putranya dengan penuh kasih.
Baca Juga: Jadwal Moto3 Jerman 2026: Veda Ega Pratama Punya Catatan Mentereng di Sachsenring
"Anakku... Ayah bangga kepadamu."
Sri Kresna kemudian mengalihkan pandangannya kepada seluruh Pandawa yang berdiri mengelilingi jasad Antareja.
"Ingatlah, yayi semua. Dalam setiap kemenangan selalu ada pengorbanan yang tidak diketahui banyak orang. Jangan hanya menghormati pahlawan yang gugur di medan perang, tetapi hormatilah pula mereka yang rela mengorbankan dirinya agar peperangan tetap berjalan di jalan dharma. Sebab, pengorbanan yang dilakukan dengan tulus akan dikenang sepanjang zaman, meskipun namanya tidak selalu disebut sebagai pemenang."
Keheningan kembali menyelimuti hutan. Seluruh Pandawa masih berdiri mengelilingi jasad Antareja. Tak seorangpun sanggup mengucapkan sepatah kata.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani