Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
"Yayi Prabu sekalian, jangan mengira kesedihan hari ini adalah akhir dari segala duka. Gugurnya Antareja hanyalah pembuka jalan. Bharatayudha akan meminta lebih banyak air mata daripada yang mampu kalian bayangkan."
Werkudara mengangkat wajahnya yang masih basah oleh air mata.
"Kakang Prabu, apakah penderitaan ini belum cukup?"
Sri Kresna menggeleng pelan.
"Belum, Yayi Werkudara. Takdir tidak pernah lupa walau hanya sedetik. Apa yang telah digariskan Hyang Wenang akan tetap terjadi, siap ataupun tidak. Tugas manusia bukan menghindari takdir, melainkan mempersiapkan hati untuk menerimanya dengan ikhlas."
Puntadewa menundukkan kepala.
"Lalu bagaimana kami harus melangkah setelah kehilangan Antareja?"
Sri Kresna tersenyum bijaksana.
Baca Juga: 10 Rekomendasi Hotel Murah di Bali untuk Backpacker 2026, Hemat dan Berlokasi Strategis
"Tetaplah berjalan. Seorang pemimpin tidak boleh berhenti hanya karena kesedihan. Air mata boleh jatuh, tetapi langkah menuju dharma tidak boleh terhenti. Sebab, rakyat menggantungkan harapan kepada pemimpinnya, bukan kepada ratapannya."
Arjuna memandang langit yang mulai diselimuti awan kelabu.
"Kakang Prabu, apakah kemenangan benar-benar harus dibayar semahal ini?"
Sri Kresna menjawab lirih,
"Setiap kemenangan selalu meminta pengorbanan. Semakin besar kemenangan yang hendak diraih, semakin besar pula keikhlasan yang harus dipersembahkan. Itulah sebabnya, jangan pernah menyombongkan kemenangan, karena di baliknya selalu ada mereka yang lebih dahulu gugur demi membuka jalan."
Pandawa kemudian serempak menyembah kepada Sri Kresna. Dengan langkah perlahan, mereka meninggalkan tempat itu sambil membawa jasad Antareja menuju Amarta.
Senja pun turun mengiringi kepergian mereka, seolah-olah alam turut berduka. Dari kejauhan, Sri Kresna memandang kepergian para Pandawa, lalu berbisik pelan,
"Selamat jalan, Anakku Antareja. Pengorbananmu akan menjadi awal kemenangan Pandawa. Kelak dunia akan mengerti bahwa kemenangan sejati bukanlah lahir dari kekuatan, melainkan dari keikhlasan menerima takdir yang telah ditentukan Hyang Wenang."
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani